oleh

Yeni : Beberapa Perda Masih Belum Maksimal Diterapkan

Perda Anjal, Didesak Segera Diterapkan

Permasalahan Anjal, lagi-lagi masih meresahkan oleh masyarakat. Peraturan Daerah (Perda) yang sudah disahkan DPRD untuk mengatasi permasalahan Anjal, saat ini belum menjadi solusi.

Laporan Riena Fitriani Maris, Watervang

MAKA wajar kalau anggota DPRD Kota Lubuklinggau, selalu mengingatkan pihak eksekutif untuk gencar menerapkan Perda-Perda yang sudah dibahas dan disahkan oleh DPRD bersama eksekutif. Kalau tidak diterapkan secara maksimal, maka Perda tersebut sia-sia saja.

“Karena Perda Anjal bukan satu-satunya. Selama ini sudah ada beberapa Perda, yang kita nilai masih belum maksimal diterapkan,” tegas anggota DPRD, Yeni Risnawati.

Mengenai Perda Anjal, ia terus mendesak agar segera diterapkan.

“Maksimalkan penerapannya, agar tidak ada lagi permasalahan Anjal, pengemis dan anak punk yang meresahkan masyarakat. Tujuan kita mengajukan, membahas dan mengesahkan Perda anjal agar menjadi solusi,” tegasnya.

Senada ditegaskan Wansari, yang pada saat Perda Anjal diajukan dan dibahas ia menjadi Ketua Badan Pembuat Peraturan Daerah (BP2D) (yang saat ini menjadi Bapemperda, red).

“Perda tersebut diajukan melalui eksekutif sudah lama. Namun kita bahas ditahun 2017, karena menurut kita itu salah satu Raperda insiatif DPRD yang mendesak. Mengingat, laporan mengenai anjal yang sudah meresahkan juga cukup banyak,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Satuan (Kasat) Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Lubuklinggau, Elbaroma melalui Kasi Ketertiban Umum, Akoba Ibramin menegaskan, pihaknya segera menindaklanjuti saran dari Sekretaris Komisi I DPRD, Yeni Risnawati. Yakni, memasang kembali spanduk imbauan mengenai larangan memberikan uang untuk Anak Jalanan (Anjal).

Ia mengakui, kalau tiga spanduk yang sudah dipasang pada akhir Oktober 2017 lalu semuanya hilang.

“Ada tiga spanduk mengenai larangan memberikan atau menerima uang, untuk Anjal dan Gepeng. Tiga spanduk kita pasang di tiga lokasi yang memang kita nilai menjadi lokasi berkumpulnya mereka. Pertama di JPO, lalu di terminal Kalimantan dan terakhir di simpang RCA. Spanduk di JPO yang menjadi lokasi anak-anak ngelem, yang pertama kali hilang. Lalu menyusul kedua spanduk lainnya,” tegas Akoba.

Meskipun Peraturan Daerah (Perda) Anjal masih tahap evaluasi, pihaknya sengaja sudah mulai melakukan sosialisasi melalui spanduk. Ketika akan diterapkan, semua warga termasuk Anjal sudah paham adanya aturan tersebut. Sesuai saran dari dewan dilanjutkannya, kedepan spanduk imbauan ini akan dipasang di lokasi yang tidak mudah untuk dijangkau. (*)

Rekomendasi Berita