oleh

Yayasan Delapan Enam Sukses Adakan Seminar Nasional

LUBUKLINGGAU – Yayasan Delapan Enam sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Memperingati Hari Ibu ke-90, di Gedung Kesenian Sebiduk Semare, Sabtu (22/12).

Seminar yang menghadirkan Pembicara Suherman Wahid itu dibuka Asisten I Setda Kota Lubuklinggau, Heri Suryanto. Bahkan dihadiri Walikota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe, Ketua GOW Kota Lubuklinggau Sri Haryati Sulaiman, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lubuklinggau Dr H Tamri, Ketua IGTKI Lubuklinggau Hj Paulina Simanjuntak, Kepala SD, SMP dan SMA/SMK se-Kota Lubuklinggau, serta para guru dan organisasi wanita.

Pada kesempatan itu, Narasumber Suherman Wahid menjelaskan, untuk menjadi individu yang sukses tak hanya bisa mengandalkan intelegensia yang bagus.

“Orang yang intelegensianya bagus, belum tentu memiliki sikap yang baik. Makanya, kalau mau jadi pemimpin, intelegensia bagus, sifat kerja bagus dan kepribadiannya baik,” jelas dosen STMIK-STIE Bina Dharma Palembang ini.

Bapak yang juga mendedikasikan diri di STMIK PalComTech Palembang itu mengatakan, seseorang yang hanya bermodal kepintaran akademik, terkadang tak mampu menyelesaikan ekonomi rumah tangga, bahkan tak mampu memanage lingkungan.

“Kepribadian yang baik itu sangat penting. Dengan begitu, jiwanya akan lebih terbuka untuk terus mengevaluasi diri,” tuturnya.

Berkenaan dengan Hari Ibu, Suherman Wahid juga mengingatkan para ibu yang hadir untuk selalu berkata baik tentang anak-anaknya, baik anak di rumah maupun peserta didik di sekolah.

“Ingatlah para ibu. Kata adalah doa. 10 Kali ibu sampai bilang ‘ini anak nakal sekali!’ itu artinya ibu mendoakan anak anda nakal. Maka, berkatalah yang baik-baik tentang anak-anak anda,” saran dia.

Ia juga mengingatkan agar para orang tua, jangan terlalu bangga ketika memiliki anak yang cerdas intelektualnya. Namun, imbangi dengan kecerdasan emosional dan spiritual.

“Orang cerdas intelektualnya, kalau ambil keputusan akan sangat hati-hati. Karena kalau tidak, berisiko. Hal ini penting diimbangi dengan pengendalian diri memakai kecerdasan emosional. Dan ia akan menjadi pribadi yang taat pada tuhannya dengan kecerdasan spiritual,” terang Suherman.

Pada momen itu, pembicara juga mengingatkan kepada para hadirin yang mungkin sedang mengemban jabatan sebagai kepala sekolah, pimpinan perusahaan, bahkan kepala maupun ibu rumah tangga.

“Jangan sekali-kali memarahi guru atau karyawan atau anak anda di tengah-tengah orang yang ramai. Jika dia stafmu, marahlah dengan cara yang santun. Ajak dia ke dalam ruangan, ungkapkan apa yang membuatmu tak nyaman dengan cara yang baik. Pun dengan anak. Jangan marahi anak di hadapan anak-anakmu yang lain. Inilah gol dari pengendalian diri alias kecerdasan emosional. Seorang pemimpin harus punya ini, agar kepemimpinannya berjalan baik,” jelas dia.

Ketua Panitia Seminar Nasional, Nurma Rahaji berharap, peserta Seminar Nasional ini bisa memetik ilmu dari apa yang disampaikan pemateri.

“Kami sengaja mengundang pemateri yang sudah handal. Agar mudah dicerna, dan ilmunya mudah diimplementasikan,” jelas Pendiri Yayasan Delapan Enam tersebut.

Nurma Rahaji menerangkan, yayasan yang didirikannya bersama Rahmad Bastari dan Ali Sadikin itu bergerak ditiga bidang. Pertama Agama, kedua kemanusiaan dan ketiga sosial.
“Seminar nasional ini, program perdana kami untuk bidang sosial. Harapannya, bisa membantu Pemkot Lubuklinggau dalam membangun SDM yang berkualitas,” jelas Nurma.

Bahkan, sebagai wujud syukur atas terbentuknya Yayasan Delapan Enam, dipimpin Ketua H Novian Fauzi, mereka menyerahkan bantuan ke Panti Asuhan Al Kausar.

Nurma menerangkan, Yayasan Delapan Enam yang baru berdiri Oktober 2018 ini akan terus dikembangkan. Baik untuk menjadi Even Organizer (EO), Wedding Organizer (WO) maupun penggerak kegiatan sosial.(lik)

Rekomendasi Berita