oleh

Yakin Bisa Jadi STAIN

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bumi Silampari (BS) optimistis bisa menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Ketua STAI BS Ngimadudin, kemarin menuturkan, sebagai proses percepatan menjadi STAIN, kampus yang terletak di Jalan Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II, Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II itu menambah lima program studi baru. Yaitu, Prodi Hukum Tata Negara, Hukum Keluarga, Pengembangan Masyarakat Islam, Manajemen Bisnis Syariah dan Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA).

Ngimadudin berkeyakinan, dengan bertambahnya lima Prodi ini, STAI BS akan memiliki tujuh Prodi.

“Kalau jadi STAIN, maka kampus ini akan lebih diperhatikan pemerintah. Bagaimanapun, berkaca dari kampus-kampus Islam negeri, bantuan untuk pengembangan kampus lebih mudah. Makanya kami juga terus berkomunikasi dengan Kementerian Agama,” terang Ngimadudin.

Komunikasi juga dijalin serius dengan kepala daerah, baik Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas maupun Kabupaten Muratara, untuk memberikan perhatian maksimal mendukung STAI-BS menjadi negeri.

“Sebab di tiga wilayah ini belum ada kampus negeri, maka ketiga kepala daerah ini mengapresiasi semangat kami untuk mewujudkan itu. Kami harap mendukung yang serius dari kepala daerah ini,” harap Ngimadudin.

Selain itu, STAI-BS juga telah melakukan kolaborasi. Dengan menggandeng STAIN Curup untuk bekerja sama meningkatkan kualitas SDM-nya.

“3 Februari 2018 lalu kami jalin kerja sama dengan STAIN Curup,” tutur Ngimadudin.

Nantinya STAI-BS akan terus merealisasikan apa yang jadi target. Ia menyadari memang tidak gampang. Oleh karena itu, butuh dukungan semua pihak. Terutama pemerintah, harus benar-benar serius dalam memajukan pendidikan, khususnya perguruan tinggi.

“Jujur kita jauh tertinggal soal pendidikan. Terutama dari sisi Perguruan Tinggi–nya. Kita harus akui itu. Dan saya yakin, kalau hari ini pemerintah mendukung, bisa mempercepat akselerasi pertumbuhan STAI-BS ke depan menjadi negeri. Sebab menjadi negeri ini harus. Dengan begitu, baik Dikti maupun Kemenag akan terus membantu sepanjang ada lahannya,” jelas Ngimadudin.

Yang jadi masalah STAI-BS saat ini, sejak berdiri 10 Agustus 1994 belum memiliki lahan. Bahkan untuk mencairkan bantuan sedikit saja, harus ada legalitas tanah.

“Selama ini masalah lahan itu tidak tersentuh. Nah, memang kita harus ada tanah. Dan legalitas itu harus ada. Kalau ini terjadi terus, maka masalah lahan akan menjadi kendala paling besar untuk meningkatkan status sebuah perguruan tinggi. Sehingga wajar kalau mayoritas kampus masih terakreditasi C. Secara program studi saja bisa berkembang, apalagi institusi. Luar biasa ‘PR’ kita dalam meningkatkan daya saing PT luar biasa,” jelasnya.

Ia berharap kerja sama seluruh pihak, pemerintah masyarakat, sehingga STAI-BS kalau berstatus negeri ke depan bisa bersaing.

“Mimpi kami adalah mimpi menjadi negeri. Minimal ini akan menjadi tonggak sejarah untuk menjadikan kampus ini kampus yang besar. Kami sangat fokus dan menguatkan kesolidan tim,” jelasnya.(02)

Rekomendasi Berita