oleh

Wyra Pilih Menjadi Tukang Servis Keliling

Tak Ingin Rumah Dipenuhi Barang Elektronik

Menjadi tukang servis elektronik keliling, telah dilakoni Wyra Bahar selama 10 tahun terakhir. Selama itu, warga Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II ini, merasakan pahit manis menjadi tukang servis keliling.

Laporan Daulat, Pasar Permiri

Tukang servis elektronik keliling Wyra Bahar (30) mengatakan, sudah menjadi tukang servis elektronik keliling lebih kurang 10 tahun. Tepatnya sejak ia putus sekolah, yakni tahun 2007 lalu. Meskipun hanya menjadi tukang servis keliling, ia mengaku pendapatannya tercukupi untuk memenuhi kebutuhannya.

“Alhamdulillah kalau orderan, tidak terlalu sepi. Mungkin karena sudah terlalu lama, jadi orang sudah mulai kenal dari mulut ke mulut,” kata Wyra, saat berkunjung ke jalan Batur, Minggu (10/12).

Dalam bekerja, dia tidak mematok harga. Disesuaikannya biaya servis dengan kerusakan dan kesulitan pengerjaan. Namun jangan ragukan kemampuan pria yang memegang sertifikat BLK itu. Saat memperbaiki kipas angin di salah satu rumah warga jalan Batur, dua unit bisa dia rampungkan hanya dalam waktu 10 menit.

“Penghasilan sehari-harinya tidak menentu, berkisar Rp 50 ribu – Rp 65 ribu. Setiap hari saya keliling dari pukul 07.00-18.00 WIB. Untuk lokasi sama seperti penghasilan, tidak menentu. Namanya juga tukang servis keliling, ya setiap hari kerjanya keliling mencari pelanggan,” ungkapnya sambil bercanda.

Wyra menyebut, dirinya memilih menjadi tukang servis keliling dibandingkan membuka usaha di rumahnya, lantaran tidak ingin rumahnya dipenuhi barang elektronik.

“Kadang ada barang yang sudah diperbaiki, tapi belum diambil pemiliknya. Ada barang yang sudah rusak parah dan tidak bisa lagi diservis, juga tidak diambil. Akhirnya rumah jadi berantakan. Makanya saya lebih pilih keliling. Banyak-banyak silaturahmi juga,” jelasnya.

Namun pekerjaannya ini tidak selalu mulus. Dia mengaku, kalau saat ini kekurangan peralatan modern untuk mengembangkan usahanya. Alat yang dia pakai saat ini, rata-rata masih analog.

“Saat ini cuma kekurangan peralatan,jika diberi bantuan atau punya modal, Wyra berharap bisa membeli ohm meter digital, luv atau kaca pembesar, serta komponen-komponen listrik yang lengkap,” harapnya.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita