oleh

Wujudkan STKIP-PGRI Bertaraf Internasional

Lebih Dekat dengan Dr Noermanzah

Noermanzah menjadi salah satu dosen Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-PGRI) Lubuklinggau yang berhasil menuntaskan studi Program Doktor Linguistik Terapan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Agustus 2018 ini. Seperti apa optimismenya dalam mendedikasikan diri di kampus hijau?

Laporan Sulis, Air Kuti

DR NOERMANZAH saat ini memegang amanah sebagai Ketua Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam masa studinya di UNJ, ia mampu meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi 3,95 dengan gelar cumlaude.

Dalam waktu tiga tahun, ia mampu menuntaskan studi S3-nya ini.

Soal dedikasi, ia berusaha untuk mampu menjadi dosen profesional.

“Saya ingin lebih banyak berkarya dan memberikan inspirasi kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran yang inovatif, dan melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat berbasis learning outcome,” terang suami Resa Febrina ini.

Ia juga memiliki harapan khusus, setelah meraih gelar doktor ini, ia akan mengabdikan segala potensi yang ada untuk STKIP-PGRI Lubuklinggau menjadi salah satu perguruan tinggi bertaraf internasional atau World Class University.

Selama proses studi, terang Noermanzah, bukan berjalan mulus saja. Ia mengakui, banyak tantangannya.

Alumni S1 dan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Bengkulu itu menerangkan, salah satu tantangan yang dihadapinya adalah tugas perkuliahan yang cukup berat dalam membuat buku, menyelenggarakan seminar internasional, dan program magang ke luar negeri.

“Alhamdulillah semua bisa diatasi dengan cara mencari relasi melalui dosen dan teman, adanya dukungan dari keluarga dan lembaga, mengikuti saran dan petunjuk dosen dengan penuh keikhlasan dan kedisiplinan, menjalin komunikasi dan silaturahmi. Baik dengan dosen dan staf. Saya juga berusaha meluangkan waktu dengan berperan aktif kegiatan di kampus,” jelas dia.

Tantangan kedua, menurutnya selama S3 biaya hidup dan biaya sumber belajar cukup tinggi. Oleh karena itu,dia membagi beasiswa yang diterima dari Kemenristekdikti secara proporsional dan mencari tambahan penghasilan dengan mengajar.

“Saya sangat beruntung, karena keluarga memberikan dukungan yang luar biasa. Terutama bersedia untuk tidak ikut kuliah ke UNJ. Terlebih dukungan doa dan motivasi dari istri, anak-anak, ibu dan ayah setiap hari melalui telepon, video call, pesan melalui WA dan Facebook. Saya jadi merasa sangat beruntung punya mereka,” terang ayah dari Laiqa Ayana Rahman dan Akmal Mirza Ukhail ini.

Ia berharap, ilmu yang didapatnya ini bisa jadi penguat kompetensi baginya dalam mendedikasikan diri di Kampus Cemerlang, STKIP-PGRI Lubuklinggau.(*)

Rekomendasi Berita