oleh

Waspadai Buzzer di Media Sosia Menjelang Pilkada Musi Rawas dan Muratara 2020

Oleh: Ahmad Oviko *)

Kemajuan teknologi dan informasi sangat berkembaang di hampir seluruh belahan dunia, dan telah memberikan pengaruh signifikan pada kehidupan masyarakat.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih, media sosial bukan hanya sekedar wadah informasi tetapi kini sudah dimanfaatkan masyarakat atau politisi di bidang politik.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Musi Rawas dan Musi Rawas Utara (Muratara), mulai muncul akun-akun palsu yang dibuat oleh buzzer.

Mereka menggiring opini dan juga para politisi yang mulai menarik hati masyarakat lewat media sosial terutama di facebook.

Praktisi media sosial, Nukman Luthfi, dalam Seminar Media Sosial di Gedung Nusaantara 1 DPR RI, Senayan, Jakarta, mengatakan bahwa kampanye di media sosial paling besar pengaruhnya di bandingkan melalui TV, banner, pamflet  dan sebagainya. Menurut dia 90 persen pengguna internet di Indonesia itu pengguna media sosial.

Dalam momentum ini, Media Sosial menjadi senjata untuk mempromosikan diri dan sosialisasi para politisi menjelang Pilkada 2020.

Tetapi perlu diwaspadai juga kepada masyarakat pengguna media sosial  di Musi Rawas dan Muratara. Bahwa saat ini media sosial bisa juga digunakan untuk menjatuhakan elektabilitas petahanan maupun para politisi yang bakal maju pada Pilkada 2020.

Berbagai provokasi yang dilakukan di media sosial, terutama Facebook, seperti ujaran kebencian, hoax yang di lakukan oleh buzzer yang ingin menjatuhkan elaktabilitas petahanan mampun bakal calon Bupati dan Wakil Bupati.

Kehadiran buzzer memang tidak terlepas dari platform politik yang semula diidentikan dengan kegiatan offline seperti mobilisasi keramaian berubah menjadi  hadir dalam dunia virtual (online).

Secara etomologi arti buzzer adalah lonceng, bel, atau alarm yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan banyak orang di suatu tempat dengan tujuan untuk menyampaikan suatu penguguman.

Sedangkan menurut, pengamat media sosial, Endang Nasuiton, bahwa buzzer merupakan akun – akun di media sosial yang tidak mempunyai reputasi untuk dipertaruhkan. Buzzer biasanya lebih ke kelompok orang yang tidak jelas siapa identitasnya, lalu kemudian menyebarkan informasi. (kompas.com)

Buzzer sendiri dapat didefenisikan sebagai akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian atau membangun percakapan dan bergerak dengan motif tertentu.

Dari segi semantik, kata “buzzer” kerap diidentikan dengan bunyi dengung. Karenanya buzzer dikenal juga dengan sebutan penggaung. Ia merupakan pelaku yang terus membuat suara-suara bising seperti dengung lebah.

Penelitian bertajuk The Global Disinformation Order: 2019 Global Iventory of Organised Social Media Manipulation karya Samantha Bradshaw dan Philip Howard dari Universitas Oxford(2019), mengungkapkan bahwa pemerintah dan partai-partai politik di Indonesia menggunkan buzzer untuk menyebarkan propaganda pro pemerintah/partai, menyerang lawan politik, dan menyebarkan informasi untuk memecah – belah publik.

Kehadiran buzzer tidak dapat dipandang sebelah mata dan menjadi kekhawatiran tersendiri, yakni ketika buzzer merugikan pihak – pihak tertentu dan masyarakat yang dalam keadaan minim literasi di media dan informasi. Sementara masyarakat diposisikan hanya sebatas konsumen dari berbagai informasi hoax yang bersifat propaganda dan menjatuhakn elektabilitas politisi.

Menyikapi itu, maka penting bagi pengguna sosial media terutama Facebook terutama yang sedang hangat – hangatnya menjelang Pilkada 2020 di Musi Rawas dan Muratara untuk tidak mudah mempercayai propaganda dan hoax.

Teruutama yang dilakukan oleh akun – akun buzzer dengan melakukan identifkasi akun-akun palsu yang dimuat buzzer (karna akun buzzer biasanya menggunkan identitas tak lengkap dan foto palsu), identifikasi informasi, mengevaluasi informasi, serta dapat menyaring informasi yang di sebarkan secara efektif dengan cara membandingkan dengan kanal informasi yang terpercaya.

Juga dengan pentingnya untuk menghadapi informasi-informasi propaganda dan hoax yang dilakukan buzzer yaitu dengan menampilkan fakta, jangan biarkan kebohongan dibenarkan hanya karna kita tidak menampilkan fakta yang sebenarnya dan yang terpenting dari proses tersebut, yakni kemampuan masyarakan dalam menggunakan media sosial dalam menemukan fakta serta membedakan antara fakta valid dan opini yang ada.

Diharapkan proses menjelang Pilkada tahun 2020 di Musi Rawas dan Muratara dalam media sosial berlangsung dengan ramah, tetap menjunjung tinggi sportifitas dan  tidak ada pihak yang dirugikan, maupun pemerintah, masyarkat dan para politisi yang bakal mancalonkan diri dalam Pilkada.(*)

*Sekretaris Jendral BEM Kabinet Semangat Aksi, STKIP PGRI Lubuklinggau

Rekomendasi Berita