oleh

Warga Tugumulyo Bayar Rp3 Juta untuk Dapatkan Perawan, Hasilnya 5 Tahun Penjara

-Hukum-4.171 dibaca

LINGGAUPOS.CO.ID – Krido Sunyoto (40) warga Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas dihukum lima tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Kamis (2/7/2020).

Putusan itu lebih tinggi dari pada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmawati yang sebelumnya menuntut tiga tahun enam bulan penjara.

Baca Juga: Terdakwa Prostitusi Anak Dituntut 3 Tahun 6 Bulan, Keluarga Korban: Ini Tidak Adil

Sidang dilakukan secara terbuka, dengan majelis hakim Indra Lesmana Karim didampingi Siti Yuristya Akuan dan Sahreja Papelma serta Panitera pengganti (PP) Boy Hendra Kesuma. Juga hadir dalam sidang Penasehat Hukum terdakwa Darmansyah, keluarga korban dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Musi Rawas Ngimamudin.

Majelis Hakim membacakan hasil putusan tersebut yang disaksikan langsung oleh terdakwa melalui teleconference.

Menurut majelis hakim, Krido terbukti bersalah melanggar pasal pasal 88 Jo 761 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Adapun pertimbangan memberatkan terdakwa menurutnya perbuatannya dilakukan terhadap anak di bawah umur. Sedangkan yang meringankan terdakwa mengakui kesalahan dan tidak akan mengulanginya serta belum pernah dihukum.

Majelis hakim mengatakan tidak sependapat dengan JPU yang menuntut tiga tahun enam bulan. Makanya divonis lima tahun denda Rp1 miliar subsidair tiga bulan penjara.

Krido yang mendengarkan sidang secara virtual, melalui kuasa hukumnya menyatakan pikir pikir. Sementara JPU menyatakan menerima vonis tersebut.

Seperti diketahui, Krido Sunyoto menjalani sidang Pengadilan Negeri Lubuklinggau, berkaitan dengan kasus prostitusi anak.

Bermula Juli 2019 sekira pukul 14.30 WIB, ketika terdakwa sedang berada di rumahnya dihubungi perempuan usia bawah umur inisial DN yang mengatakan “ado lokak cewek”.

Terdakwa yang merupakan pria beristri dengan empat anak perempuan itu menjawab “Iyo, kapan. Di mana?”.

DN menjawab  “Sekarang di Wisma Angel, Simpang Periuk”.

Sehingga terdakwa langsung berangkat menggunakan motor, ke Wisma Angel  menemui kasir.

Langsung memesan kamar 304 dengan membayar Rp100 ribu kepada kasir.

Kemudian terdakwa kembali menelepon DN, “aku sudah sampai di kamar 304 Wisma Angel”.

Lalu datanglah DN yang diduga mucikari membawa korban RA (13).  DN mengenalkan RA.

Sebelum melakukan persetubuhan, terdakwa melakukan perjanjian dengan korban.

“Kalau asli perawan dengan keluar darah, saya bayar Rp3 juta. Kalau tidak perawan saya bayar Rp500 ribu” Korban menjawab “Iya mana uangnya”.

Terdakwa mengeluarkan uang Rp3 juta dari saku celananya, ditunjukkan pada korban.

Lalu korban berkata “Sini uangnya, nanti kamu bohong”.

Terdakwa menjawab “Tidak, saya tidak bohong uangnya di sinilah” sambil memasukan dalam kantong kembali.

Terdakwa berkata kembali “Kalau sudah siap bukalah”.

Korban berkata pada DN “Aku jangan tinggal sendiri di dalam”. Lalu dijawab DN “Aku tunggu di WC bae”.

Lalu DN masuk ke dalam toilet kamar 304.

Saat itulah terdakwa menyetubuhi korban lebih kurang 3 menit.

Setelah itu terdakwa langsung menemui DN yang dalam toilet dan mengatakan bahwa korban tidak perawan lagi.

“Buktinya tidak keluar darah,” kata terdakwa.

Lalu terdakwa memberikan uang kepada korban Rp2 juta dan DN diberikan Rp200 ribu. Dan terdakwa langsung pergi.

Tak kapok dengan kejadian ini.

November 2019 terdakwa kembali berkenalan dengan mucikari lain yang juga masih bawah umur inisial ET (narapidana).

Terdakwa meminta untuk dicarikan wanita untuk di-booking. Ternyata ET sudah tahu bahwa korban pernah di-booking oleh terdakwa, maka ET mengirim pesan messenger menawari korban dengan iming-iming Rp700 ribu.

Korban menolak karena khawatir ketahuan orang tua. ET masih bersikeras dengan mengancam korban via messenger. Jika tak mau, ET mengancam akan memberitahu orang tua korban. Lalu korban meminta ET tak memberitahu orang tuanya.

Keesokan harinya, korban bersama temannya VN datang ke rumah ET dengan menggunakan motor. Keduanya langsung menuju Lubuklinggau untuk bertemu dengan terdakwa Krido di SPBU Marga Mulya.

Sehingga Krido bersama korban dan ET langsung menuju salah satu kosan di Kelurahan Watervang, Kota Lubuklinggau.

Setiba di kosan, Krido langsung masuk ke dalam kosan diikuti ET dan VN.

Korban sempat ingin mengurungkan niatnya di-booking Krido. Korban keluar kosan dan hendak pulang.

Dengan jahatnya, ET mengancam korban dengan mengatakan “Kalau kau dak galak, gek ku adu dengan orang tua kau, guru, biar wong tahu galo kau pernah di-booking Krido, biar kau tenar ”

Mendegar ancaman ET, korban ketakutan. Lalu menuruti kemauan ET untuk melayani Krido. Sementara ET dan VN seperti biasa, memilih diam di kamar mandi kosan.

Selepas melampiaskan nafsunya, terdakwa Krido langsung memberikan uang kepada korban Rp800 ribu, sedangkan ET dan VN masing-masing dapat Rp100 ribu. Lalu ET, VN dan korban kembali pulang ke Tugumulyo.

Dari hasil revertum 20 Maret 2020 yang ditangani dr H Jhon Yulius Santoso, hasil pemeriksaan tampak ada luka lecet pada perineum bagian bawah, dan robekan pada selaput darah tipis serta selaput darah tidak utuh pada kelamin korban.

Perlu diketahui ET kini jadi narapidana dan sedang menjalani hukuman penjara 1 tahun 10 bulan.(*)

Rekomendasi Berita