oleh

Warga Taba Pingin Jago Buat Kepala Barong Meski Rumit, Omzet Bisa Mencapai Rp6 Juta

Linggau Pos Online,

Keseharian Yuda Manopo menjadi pengrajin kayu. Ia mampu memahat kayu menjadi kepala barong yang bernilai seni. Aktivitasnya itu dijalankannya di rumah, RT 06 Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.

Laporan Gery Cipta Sebangun, Lubuklinggau

SUDAH enam tahun Yuda menekuni usahanya itu. Setiap hari, ia memahat kayu menggunakan alat pahat, palu, cat, koas bermacam ukuran, amplas, pensil, mal, dempul dan beberapa peralatan lainnya.

“Usaha yang saya jalani berawal dari hobi yang sering menonton kesenian tradisional ketika waktu saya masih kecil, sejak itu saya sering update dan intens mempelajari kesenian tersebut. Awalnya mencoba membuat kepala barong, dan hasilnya cukup baik diterima konsumen,” jelas Yuda.

Untuk membuat sebuah kepala barong, Yuda butuh waktu 1-4 bulan, tergantung kerumitannya.

Ia menuturkan, cara pembuatan kepala barong, pertama pemotongan ukuran kayu, ukuran sudah sesuai langsung menggunakan mal agar posisi tidak melenceng, setelah itu mendesain dengan menggunakan pensil atau pena yang langsung digambar di kayu.

Setelah selesai mendesain kayu tersebut, kata Yuda, lalu dilanjutkan proses pemahatan, pengamplasan agar kayu tersebut lebih terlihat seratnya.

Kemudian setelah terlihat bentuk dan seratnya, langsung dempul terlebih dahulu dan dicat menggunakan kuas, dan bagian finising menggunakan cat glossy agar tampak lebih berkilau.

Menurutnya, untuk harga jual kepala barong yang tidak menggunakan pakaian (hanya kepala) berkisar Rp 1–2 juta, dan termahal sekitar Rp3 jutaan. Sedangkan harga barong yang sudah sempurna dengan pernak-penik pakaian belakangnya bisa mencapai harga Rp4 – 6 juta per unit.

Penjualan kepala barong masih sekitar se-Sumatera, seperti penjualan ke Riau, Palembang, Bengkulu dan beberapa daerah lokal lainnya di Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas.

“Untuk harga kita melihat dari ukuran dan kerumitan yang dibuat. Modal yang saya keluarkan untuk membeli peralatan seperti cat, dan bahan lainnya berkisar Rp 1 jutaan,” jelas Yuda.

Menurut dia, tak semua jenis kayu bisa diolah, ada beberapa macam kayu yang ia gunakan untuk membuat kerajinan. Terutama dipertimbangkan aspek ketahanan, maka cari kayu yang bersifat keras dan alot. Seperti kayu waru, kayu pule dan kayu dadap cangkring.

Selain membuat kerajinan kepala barong dan dadak merak, Yuda juga sering membuat kerajinan alat musik yang terbuat dari kayu. Seperti trompet, kendang dan alat musik lainnya.

Sekarang Yuda termasuk dalam Tim Paguyuban Kesenian Kota Lubuklinggau yang bernama Bantar Angin, dan Paguyuban Kabupaten Musi Rawas, Merasi yang bernama Surojoyo.(*)

Rekomendasi Berita