oleh

Warga Rawas Ilir Merasa ‘Dianaktirikan’

LINGGAU POS ONLINE – Kondisi jalan di Kecamatan Rawas Ilir hingga kini masih memprihatinkan. Bahkan ada beberapa jalan, kondisinya masih tanah kuning.

Padahal kecamatan ini, wilayah penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar dari enam kecamatan lainnya yang ada di Muratara. Hal ini membuat warga di Rawas Ilir, merasa ‘dianaktirikan’. Dari tujuh kecamatan yang ada hanya Kecamatan Rawas Ilir yang kurang tersentuh pembangunan jalan, tidak seperti kecamatan lain yang didominasi jalannya sudah aspal.

Salah satu contoh akses jalan menuju Desa Pauh I, Desa Pauh, Batu Kucing dan Belani serta beberapa desa lainnya, yang hingga kini kondisi akses jalannya masih alami. Ketika musim hujan kondisi jalan berlumpur dan susah dilalui, ketika musim kemarau berkabut oleh debu.

Mantarman (47) seorang warga Desa Pauh menceritakan, sejak dulu hingga sekarang akses jalan menuju desanya tidak ada perubahan secara signifikan.

“Sampai kini Muratara sudah menjadi kabupaten, kondisi jalan kami belum ada perubahan masih seperti dulu. Melihat kondisi ini saya secara pribadi merasa sedih dan prihatin, sebab Rawas Ilir merupakan penyumbang PAD terbesar, tetapi sayangnya kami tidak merasakannya,” ungkap Mantarman.

Wajar ditegaskan Martaman, kalau masyarakat Rawas Ilir merasa dianaktirikan, dan menilai pemerintah tebang pilih dalam pembangunan.

“Lihat saja hanya Rawas Ilir jalannya masih jelek, sedangkan kecamatan lain jalannya rata-rata sudah diaspal,” jelasnya.

Budin (50) salah seorang warga Desa Batu Kucing juga menyayangkan jika Rawas Ilir kurang diperhatikan oleh pemerintah dalam segi pembangunan.

“Jangankan mau jalan aspal, rigit beton saja belum terlihat. Bukannya kami mau diutamakan, akan tetapi setidaknya tolong diperhatikan,” harapnya.(*)

Laporan : Fahmilan Jadidi

Rekomendasi Berita