oleh

Warga Petunang Disidang

LINGGAU POS ONLINE – Terdakwa Dedi Dores dan Devan Yaskar mengikuti sidang ketiga di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Kamis (1/8).

Warga Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas (Mura) itu tampak mengenakan rompi orange khas tahanan.

Sidang kemarin menghadirkan saksi Edi selaku Sekretaris Desa. Edi ternyata juga merupakan kerabat dari kedua terdakwa.

Dari kesaksiannya, Edi menyatakan pertama kali mendapat informasi dari warga yang pada saat itu berlari melintas depan rumahnya, sekaligus menginformasikan kepada dirinya bahwa adanya terjadi pembunuhan.

Kemudian Edi pun langsung menuju ke lokasi.

“Sesampainya di lokasi, saya melihat sesosok mayat dengan berposisi telungkup, dan di sekitaran mayat berlihat adanya ceceran darah,” kata Edi.

Sebelumnya ia tidak mengetahui bahwa pelakunya merupakan kerabatnya sendiri, bahwa ia sangat mengenal baik kedua terdakwa tersebut, karena menurut keseharian kedua tersangka merupakan seorang pekerja buruh di kebun sawit di salah satu PT di Kecamatan Tuah Negeri.

Adapun dalam kronologis kejadian dalam dakwaan, terdakwa Dedi Dores dan Devan bersama kedua tersangka lainnya yang berinisial FR dan RA (DPO) berkumpul di lapangan Voli, Desa Petunang untuk merencanakan aksi penodongan 6 Mei 2018.
Kemudian kedua terdakwa bersama dengan dua rekannya berangkat mengendarai sepeda motor menuju Desa Suka Karya untuk mencari target atau korban.

Namun setelah mengelilingi di Desa Suka Karya, terdakwa dan dua tersangka lainnya tidak menemukan target lalu berencana kembali ke Desa Petunang pukul 18.30 WIB.

Dalam perjalanan, tepatnya di Simpang Semambang, Desa Lubuk Rumbai, sepeda motor terdakwa dan rekannya disalip oleh korban Sudirman dan Agung yang hendak menuju ke Lubuklinggau.

Melihat hal itu, RA langsung memerintahkan kepada terdakwa untuk mengejar korban dan mengiringi dari belakang. Sampai ke Dusun Seriang, Desa Petunang terdakwa langsung menyalip motor korban dan langsung memberhentikan secara paksa ketika saat melaju.

Namun korban yang dipaksa berhenti tak menghiraukan terdakwa. Kemudian RA dan FR yang ikut mengejar mengeluarkan sebilah Senjata Tajam (Sajam) sejenis pisau dan mengarahkan kepada korban agar berhenti. Namun korban malah melaju semakin cepat, hingga akhirnya korban yang semakin terjepit hanya bisa pasrah memberhentikan laju kendaraannya.

Kendaraan RA dan FR yang membawa Sajam langsung mendekati korban sambil menyuruh korban untuk turun. Namun saat itu korban yang tidak merasa bersalah hanya bisa menolak perintah dari RA.

Kemudian dari belakang terdakwa Dedi Dores dan Devan memukuli korban sedangkan RA mencabut Sajam dan menusukan ke dada sebelah kiri korban.

Seusai itu, terdakwa dan tersangka lainnya yang takut karena ada warga yang mendekati langsung menaiki motornya masing-masing dan meninggalkan korban bersama motornya di Jalan Lintas Sumatera.

Seusai persidangan berlangsung, sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Fedinaldo H Bonodikun SH, Andi Barkan Mardianto SH, Syahreza Papelma SH dengan Panitera Pengganti (PP) Marlinawati SH, menunda persidangan selama dua minggu kedepan karena kuasa hukum terdakwa meminta akan membawakan saksi meringankan dan ahli pidana.

“Sidang ditunda hingga Kamis (15/8), karena dari pihak kuasa hukum terdakwa akan membawakan saksi meringankan dan ahli pidana dalam persidangan selanjutnya,” jelas Majelis Hakim Ferdinaldo.

Terpisah, adapun dalam Jaksa Penuntut Umum (JPU) FA Huzni SH menginformasikan kepada Linggau Pos, sidang yang berlangsung merupakan sidang dari keterangan saksi Edo. Sebelumnya dalam persidangan kedua kesaksiannya dari Henrdi, Agung, dan Mardalena.

Selain itu menurut JPU, kedua terdakwa terjerat terancam pasal berlapis, diantaranya Pasal 338 KUHP, Pasal 351 ayat (3) KUHP dan Pasal 170 ayat (2) ke -3 KUHP.

“Tersangka terancam dalam pasal pembunuhan, pengeroyokan, dan kekerasan yang sehingga korban menyebabkan meninggal dunia,” jelas JPU Huzni. (yan)

 

Rekomendasi Berita