oleh

Warga Ngamuk di RSUD Rupit

MURATARA – Suasana mencekam mewarnai Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Kamis (13/12) sekitar pukul 14.00 WIB.

Sejumlah perawat dan tenaga medis yang tengah memberikan pelayanan, mendapat ancaman dan penganiayaan dari salah satu keluarga pasien yang mengamuk.

Informasi dihimpun, Wawan warga Desa Lubuk Rumbai, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara, diduga yang melakukan pengancaman dan penganiayaan terhadap tenaga medis.

Awalnya ia mengantar salah satu keluarganya untuk mendapatkan pelayanan medis di RSUD. Lalu pasien ditempatkan di ruang UGD oleh petugas.

Merasa disepelekan setelah menunggu lama, para pelaku sekitar empat orang, langsung berteriak-teriak dan menggebuk meja.

Wawan langsung menghampiri dokter yang tengah berjaga yakni dr Yoga. Ia diduga melakukan pemukulan, persis ke arah di bagian wajah, namun pukulan itu sempat di tangkis korban kendati masih sempat mengenainya.

Selanjutnya, reaksi itu disusul oleh rekan-rekan pelaku lainnya sambil mengeluarkan senjata tajam mengancam akan membunuh semua petugas medis yang tengah berjaga.

Suasana ricuh itu sempat mendapat respon dari salah satu sopir mobil Ambulan di RSUD Rupit, Haryono yang mencoba melerai keributan tersebut. Dengan mengatakan, ‘Sabar, sabar, sabar” katanya.

Karena suasana terlalu tegang, Haryono yang melerai tak luput menjadi sasaran amukan pelaku. Haryono sempat dianiaya dan dipukuli oleh pelaku sehingga korban alami luka robek di bagian bibir.

Aksi brutal yang terjadi di tengah pelayanan itu, sontak mendapat sorotan langsung sejumlah pasien yang tengah melakukan pelayanan. Cekcok mulut sempat terjadi selama beberapa waktu, hingga para pelaku keluar dan pergi meninggalkan RSUD Rupit.

Marudin warga Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara, yang sempat melihat aksi itu mengatakan, seharusnya peristiwa brutal itu tidak terjadi, jika keluarga pasien tidak membabi-buta menyerang petugas medis yang tengah melakukan pelayanan.

“Itu akibat emosi masyarakat yang tak paham adab. Padahal kalau bertanya baik-baik pasti di layani baik juga,” katanya.

Sementara itu, Direktur RSUD Rupit, dr Herlina melalui Bagian Kehumasan, Dian membenarkan adanya kejadian tersebut sehingga membuat petugas medis yang mendapat intimidasi mengalami trauma dan tidak betah memberikan pelayanan di Muratara.

Selain melakukan intimidasi para petugas juga diancam dibunuh, sehingga itu menimbulkan keresahan pelayanan di RSUD Rupit.

“Memang ada kejadiannya, dokter dipukul tapi dokternya sempat menangkis yang luka itu petugas yang bertugas sebagai driver ambulan. Tentunya ini menjadi perhatian kami, dan kami sangat mengecam aksi itu,” katanya.

Pihaknya menegaskan, terlepas benar atau salahnya pasien maupun petugas medis yang terlibat dalam insiden tersebut. Namun tidak semestinya permasalahan itu diselesaikan dengan kekerasan, intimidasi dan pengancaman.

“Kami juga punya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam melakukan pelayanan, tidak mungkin dokter memberikan tindakan jika tidak dilengkapi dengan SOP yang ada. Kami siap memberikan pelayanan, tapi kami jangan selalu di ancam-ancam, karena petugas medis itu mereka yang mempunyai keilmuan tentang pelayanan kesehatan,” bebernya.

Pihaknya mengaku, sangat mengutuk insiden itu sehingga menimbulkan sejumlah keresahan dan trauma terhadap seluruh petugas di RSUD Rupit, Muratara. Insiden itu selain dilihat oleh masyarakat luas, juga terekam Closed Circuit Television(CCTV) pengamanan yang di pasang di RSUD Rupit.

Terpisah Kapolres Mura, AKBP Suhendro melalui Kapolsek Rupit, AKP Yulfikri ketika dikonfirmasi menjelaskan, laporan korban sudah masuk pada catatan pihak kepolisian. Saat ini dalam proses penyelidikan.(smk/blc)

News Feed