oleh

Warga HTI Tewas Ditembak

LINGGAU POS ONLINE, BTS ULU – Rabu (13/12) sekira pukul 19.00 WIB, warga SP 9 HTI Desa Tambangan, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Musi Rawas (Mura) heboh.

Diduga sempat terjadi perkelahian lima Orang Tidak Dikenal (OTD). Hingga berujung tewasnya Yudi (25). Warga Desa Tambangan ini diduga terkena tembakan di kepala.

Hasil informasi di lapangan, kejadian tragis diduga bermula saat Rabu (13/12) pagi, lima OTD mendatangi rumah Untung (38) di daerah Trans SP 9 HTI, Desa Tambangan menggunakan dua motor.

Kemudian, seorang OTD berinisial JN menanyakan keberadaan SN warga SP 6, Kecamatan BTS Ulu.

Diduga karena JN dan kawan-kawan tidak menemukan SN sehingga JN kesal dengan Untung. Apalagi sudah sejak dari pagi JN mencari SN namun tidak ditemukan.

Sehingga terjadilah keributan antara JN dan Untung. Diduga JN langsung melepaskan tembakan ke arah Untung, namun Untung langsung berlari ke belakang rumah.

Diduga, JN langsung menembak Efendi (46) merupakan kakak Untung di depan rumah Untung diduga mengenai pinggang bagian belakang sebelah kiri sehingga Efendi tersungkur dan terjatuh.

Kemudian diduga kelima OTD ini langsung membawa mobil Kijang Super milik Efendi ke arah Dusun Panglero. Namun mereka sempat dihadang Yudi (25). Lalu salah satu OTD diduga menembak Yudi dan mengenai kepalanya sehingga meninggal dunia di lokasi kejadian.

Melihat kejadian itu istri Efendi langsung meminta pertolongan warga dan Efendi dibawa ke Puskesmas BTS Ulu dengan menggunakan Mobil PT Pertamina hingga akhirnya Efendi dirujuk ke RS Siti Aisyah Lubuklinggau sekitar pukul 22.00 WIB, Rabu (13/12).

Pengamat Hukum asal Kota Palembang, Dr Rachmat Setiawan mengatakan polisi harus rutin melakukan sosialisasi, guna menekan lajunya peredaran Senjata Api (Senpi) ilegal.

“Sosialisasi itu ke tokoh masyarakat, tokoh agama hingga tokoh pemuda, karena memang suara mereka yang paling di dengar masyarakat,” kata Rachmat Setiawan, Kamis (14/12).

Kemudian, dilanjutkan Rachmat, polisi juga harus lebih mendekatkan diri lagi ke masyarakat, sampai masyarakat merasa aman atau merasa terlindungi oleh aparat kepolisian.

“Tunjukan kalau rasa aman itu bukan hanya milik polisi, tapi milik masyarakat dan polisi merupakan pelindung masyarakat. Kalau sudah begitu, saya yakin peredaran Senpi bisa dinetralisir,”ujarnya.

Setelah semua itu dilakukan, menurut Rachmat, baru polisi melakukan tindakan tegas kepada masyarakat yang masih menyimpan atau membawa Senpi ilegal, guna memberikan efek jera kepada para pelanggar.

“Sejauh ini hukuman yang kerap dijatuhkan ke pemilik Senpi berkisar dua tahun. Hukuman dua tahun penjara, saya rasa sudah sangat berat bagi masyarakat yang hanya menyimpan dan menguasai Senpi ilegal. Karena Senpi tersebut tidak digunakan untuk kejahatan. Tapi, kalau digunakan untuk kejahatan, hukuman itu terlalu ringan. Kalau semua itu sudah dilakukan, kedepan tidak ada lagi yang mau menyimpan barang terlarang ini,” jelasnya. (11/16)

Komentar

Rekomendasi Berita