oleh

Warga Bantaran Sungai Waspada

LINGGAU POS ONLINE, MURATARA – Masyarakat, utamanya yang tinggal di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) diimbau waspada. Sebab musim penghujan diprediksi masih akan terjadi hingga tiga bulan ke depan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muratara, Zulkifly, Jumat (1/12) menerangkan, stok bantuan seperti pakaian perlengkapan, kebutuhan sekolah tersedia. Sementara untuk makanan siap saji sedang kosong.

“Untuk makanan siap saji tidak ada, kami sudah menyampaikan ke BPBD Pusat dan BPBD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) untuk mengirimkan tambahan buffer stok bantuan kita,” bebernya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, daerah yang rawan terkena bencana banjir yakni Kecamatan Rupit meliputi Kelurahan Muara Rupit, Desa Lawang Agung, Desa Maur, Desa Batu Gajah, Desa Noman.

Kecamatan Rawas Ilir seperti di Kelurahan Bingin Teluk, Desa Beringin Makmur I, Desa Mandi Angin, Desa Tanjung Raja, Desa Batu Kucing, Desa Belani, Desa Pauh dan Pauh I.

Untuk Kecamatan Karang Dapo rawan banjir khususnya Kelurahan Karang Dapo dan Desa Biaro.

Sementara kecamatan lainnya tapi tidak terlalu parah di Kecamatan Rawas Ulu, dan Kecamatan Karang Jaya.

Lebih lanjut, untuk data wilayah rawan bencana khususnya banjir telah pihaknya disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat.

Selain bencana banjir, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan imbauan BNPB, masyarakat Kabupaten Muratara hendaknya waspada akan siklon tropis Cempaka dan siklon tropis Dahlia yang menyebabkan hujan terus menerus atau tidak berhenti. Di mana saat ini sudah melanda DIY Yogyakarta.

“Untuk itu selain daerah rawan banjir, sesuai instruksi BNPB dan informasi BMKG, adanya siklon tropis cempaka yang kapan saja bisa menerpa Kabupaten Muratara. Lantaran saat ini sudah melanda Yogyakarta. Untuk itu kami menghimbau agar masyarakat tetap waspada, ditakutkan terkena daerah kita,” paparnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Musi Rawas, Paisol mengungkapkan, ada beberapa wilayah yang memang dikategorikan rawan bencana. Baik bencana banjir, longsor dan puting beliung.

“Untuk daerah rawan banjir di Kecamatan Muara Kelingi, Muara Lakitan, BTS Ulu, Megang Sakti dan Terawas. Sementara untuk rawan Puting Beliung di Kecamatan TPK dan Tuah Negeri berdasarkan kejadian sebelumnya, serta untuk longsor di Kecamatan TPK karena juga berdasarkan kejadian sebelumnya, serta memang di daerah TPK banyak tebing-tebing tinggi yang berpotensi longsor,” kata Paisol, kemarin.

Saat ini, ia menegaskan belum ada daerah yang berpotensi bencana alam, terutama banjir.

“Hanya saja ada dua wilayah, yakni Kecamatan Muara Kelingi dan Muara Lakitan yang debit air sungainya sudah cukup tinggi,” tegasnya.

BPBD sudah menyiapkan posko banjir di kantor BPBD yang dibuka selama 24 jam. Posko disiagakan bersama 10 orang personel BPBD dengan sistem shif. Mereka bertugas menerima informasi baik dari Camat, Kades maupun warga, serta memantau ke daerah-daerah rawan bencana.

“Alat evakuasi kita pun stand by di posko. Yakni tenda, dan dua perahu karet. Senin besok, rencananya kita akan mendapat bantuan dari pusat satu kapal cepat untuk evakuasi ketika banjir bandang, serta dua perahu karet. Sementara untuk bantuan ke pihak korban biasanya di Dinsos. Sementara BPBD, fokus ke evakuasi korban,” jelasnya.

Senada disampaikan, Sekretaris Dinsos Kota Lubuklinggau, Indra Safei mengatakan bahwa sama halnya di Musi Rawas, di Lubuklinggau juga logistik masih ada persediaannya.

“Oleh sebab itu, para korban bencana alam jangan khawatir,” kata Indra Safei.

Indra Safei menjelaskan, sama halnya dengan BPBD Musi Rawas logistik yang disiapkan yakni, beras, pakaian, lauk pauk, matras, selimut dan perlengkapan darurat lainnya.

“Hanya saja berbeda dengan BPBD Musi Rawas. Kalau Musi Rawas rutin setiap tahun, kalau Dinsos Lubuklinggau sistemnya dengan cara mengajukan kepada Dinsos Provinsi Sumsel, takutnya apabila stok logistik tersebut lama disimpan, khawatir akan kadaluwarsa. Jadi lebih baik mengajukan selama ini pun saat mengajukan selalu dapat dan diterima,” kata Indra Safei.

Lebih lanjut ia menjelaskan, mengenai penyaluran bantuan kepada korban bencana alam dilihat dulu dari berapa jumlah keluarga, umur dan akibat setelah terjadi bencana alam.

“Maka dari itu berbeda yang diterima oleh korban bencana alam, harus disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan korban itu sendiri,” jelasnya.

Kabid Bantuan dan Perlindungan sosial, Pauzi menambahkan, dengan kondisi cuaca yang sering berubah-ubah, pihaknya bahkan memosisikan Kota Lubuklinggau dengan status waspada.

“Untuk Kelurahan rawan banjir, di Kampung Siaga Bencana Kelurahan Taba Baru, Marga Bakti, Margo Rejo, Karya Bakti dan Mesat Seni, sesuai mapping lokasi bencana banjir,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, untuk daerah rawan longsor tercatat di Kelurahan Dempo, Jawa Kanan SS, Karya Bakti, Ulak Surung dan Mesat Seni.

Serta potensi angin kencang dan angin puting beliung ada di Kelurahan Sukajadi, Tanjung Raya, Petanang, Pelita Jaya, Ulak Lebar, Sidorejo, Ponorogo, Taba Pingin, Eka Marga, Karang Ketuan, Simpang Periuk, Petanang Ulu dan Kelurahan Megang. (09/07/16)

Komentar

Rekomendasi Berita