oleh

Warga Bantaran Sungai Rentan Derita OMA

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU ULU – Masyarakat, khususnya anak-anak yang tinggal di bantaran sungai rentan menderita Otitis Media Akut (OMA). Temuan ini berdasar hasil kunjungan dr Sarah Novilia, Sp. THT dan rombongan dari RS Ar Bunda Lubuklinggau, ke kediaman warga di Kampung Warna Warni Kelurahan Lubuklinggau Ulu.

dr Sarah Novilia, Sp. THT menjelaskan, OMA ialah peradangan telinga tengah yang mengenai sebagian atau seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu.

OMA biasanya diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri.

Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah.

Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.

“Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal),” paparnya.

dr Sarah Novilia, Sp. THT juga memeriksa masing-masing kondisi telinga lebih dari 15 anak di wilayah tersebut.

Efek lain yang akan dirasakan oleh penderita yakni, telinga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

“OMA dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat, pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik,” imbuhnya.(02)

Rekomendasi Berita