oleh

Volume Sampah 159 Ton Per Hari

2020, Aktifkan Gerobak Sampah

LINGGAU POS ONLINE- Saat ini volume sampah di Kota Lubuklinggau mencapai 159 ton per hari. Dari 159 ton yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya lebih kurang 100 ton, selebihnya dibuang masyarakat di jurang atau sungai, serta yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar.

Untuk itu, fokus Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kedepan bagaimana mengurangi volume sampah khususnya sampah rumah tangga. Hal ini disampaikan Kepala DLH Kota Lubuklinggau, Subandio Amin melalui Kabid Persampahan, Qodri usai rapat persiapan pantau Adipura tahun 2019 dan 2020, sekaligus Rakor Penanganan Sampah dan Evaluasi Pendistribusian Kendaraan Roda Tiga Operasional Persampahan, di Op Room Moneng Sepati Kelurahan Kayu Ara Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Selasa (26/11).

Pengurangan sampah rumah tangga ini dijelaskan Qodri, juga sebagai persiapan penilaian Adipura Tahun 2020 mendatang. Saat rapat dibahas, bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi volume sampah.

“Ya minimal jika saat ini per hari ada 159 ton sampah, bisa berkurang menjadi 50 ton,” ungkap Qodri.

Upaya yang akan dilakukan dijelaskan Qodri, memantau titik sampah yang akan menjadi titik pantau Adipura. Lalu merealisasikan usulan satu RT satu gerobak sampah. Kemudian meminta pengelola sampah di masing-masing RT memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dengan yang tidak bisa didaur ulang. Nanti yang bisa didaur ulang silakan dikelola oleh masyarakat, sementara yang tidak bisa baru diangkut oleh petugas DLH.

“Kita harapkan kedepan satu RT satu gerobak sampah ini terlaksana. Pengadaan gerobak sampah bisa menggunakan dana kelurahan karena harganya tidak terlalu mahal, hanya Rp4 juta. Nanti setelah dipisahkan, sampah yang akan dibuang ke TPA dikumpulkan di satu titik di masing-masing kelurahan. Sampah harus tetap di dalam gerobak sampai petugas kita datang, dan mengambil sampah mereka. Jika ini terlaksana, maka kita meyakini bisa mengurangi volume sampah. Karena sebagian diolah oleh masyarakat,” jelas Qodri.

Sementara untuk operasional petugas gerobak sampah, silakan kesepakatan antara RT dan warganya.

“Ya terserah mereka bagaimana teknisnya, apakah swadaya masyarakat atau bagaimana. Yang terpenting sampah sebelum kita jemput sudah dipisah, mereka kumpul di satu titik dan sampah tidak dibongkar sebelum petugas kita datang,” jelasnya.

Selain itu diungkapkan Qodri, setelah dilakukan evaluasi terkait pendistribusian kendaraan roda tiga operasional persampahan di Kelurahan, ternyata selama ini belum efektif. Belum sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni mengurangi permasalahan sampah. Padahal sudah sebanyak 29 unit kendaraan roda 3 yang didistribusikan.

“Kita tidak tahu apakah banyak disalahgunakan atau bagaimana, yang jelas saat evaluasi ternyata kendaraan yang dibagikan ini belum efekti. Bahkan diharapkan bisa menjadi sumber PAD juga belum terealisasi. Kedepan kita minta Camat untuk diefektifkan kembali, karena sayang kalau tidak,” ungkap Qodri.

Terakhir, pihaknya juga menekankan kepada RT, Lurah dan Camat untuk lebih peduli lagi terhadap permasalahan sampah.

“Ya minimal diingatkan warganya untuk peduli terhadap sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan,” tambahnya.’

Laporan Riena Fitriani Maris

Rekomendasi Berita