oleh

Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

LINGGAU POS ONLINE- Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai. Namun, Umbar Susilo menciptakan mesin yang mampu mengubah sampah plastik jadi bahan bakar.

’’Mesin ini pada umumnya bekerja dengan kapasitas kecil untuk pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar,”ungkap Umbar Susilo saat mempraktikkan mesin pengolah sampah disela peresmian Taman Baca dan Wisata Sawah (Tawasabin) Desa Kutoarjo, Pesawaran, kemarin.

Dijelaskan, mesin berkapasitas 5 kilogram. Dalam setiap 5 kilogram untuk sampah plastik seperti styrofoam, pastik bergelembung, pampers mampu menghasilkan 90 persen BBM. Kemudian sampah jenis tutup botol, kulit kabel, plastik sachet berwarna, plastik sachet alumunium mampu menghasilkan 80 persen bahan bakar.

“Artinya dalam 5 Kilogram styropoam mampu menghasilkan 4 liter bahan bakar. Kemudian sampah plastik jenis botol plastik bening, dan gelas plastik bening mampu menghasilkan 50 persen bahan bakar atau 2,5 liter dari sejumlah bahan baku seberat lima kilogram tadi,”jelasnya.

Untuk proses pengolahannya sendiri lanjut Umbar, bahan plastik dimasukkan dalam mesin dan dengan proses pemanasan kurang lebih 2 jam. Menurutnya, mesin pengolahan sampah dengan sistem distilasi itu telah diuji di laboratorium Pertamina Geothermal Energi di Ulu Belu sekitar Oktober lalu.

“Untuk kualitas yang dihasilkan seperti premium dengan nilai oktan sebesar 91 dan solar dengan cetane mencapai 53,”paparnya.

Umbar menjelaskan, latar belakang pembuatan mesin itu adalah salah satu gerakan untuk mengurangi sampah plastik yang sulit terurai. “Alhamdulillah bahan bakar dari pengolahan sampah ini sudah kita lakukan percobaan dengan kendaraan kita, perjalanan dari Lampung ke Jawa Tengah,” katanya.

Terpisah, Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona menegaskan, tawasabin di desa Kutoarjo menunjukkan kreatifitas anak anak muda.

“Saya berharap tidak hanya di Desa Kutoarjo saja, tapi juga di desa desa lainnya memiliki taman baca seperti ini.Tolong kalau mau masuk taman baca kurangi penggunaan handphone,”ujarnya.

Menurut Dendi, budaya baca yang dimiliki masyarakat saat ini telah tergantikan oleh teknologi digital. Dan minat baca dinilai rendah jika dibandingkan dengan penggunaan media sosial seperti Facebook, WA, Instagram dan lain-lain.

“Teknologi digital yang berkembang pesat ini, sudah mengubah segalanya, jika dahulu kita menerima pengetahuan dan informasi dari buku, namun saat kita lebih banyak menerimanya dari sosial yang terkadang pengetahuan atau informasi belum tentu atau bahkan tidak benar (hoaks),”imbuhnya.

Sumber : Fin

 

Rekomendasi Berita