oleh

UAS dengan Dua Kurikulum

Prof DR Jalaluddin
“Kurikulum 2013 memberikan banyak kesempatan pada siswa untuk berpendapat sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka, sehingga tentunya akan dapat membuat mereka lebih kritis dan tanggap terhadap pelajar maupun isu yang berkembang saat ini….”

LINGGAU POS ONLINE, KAYU ARA – Ada dua kurikulum yang digunakan dalam penilaian siswa-siswi SMP Negeri 4 Lubuklinggau akhir semester gasal ini. Khusus kelas VII dan VIII menggunakan Kurikulum 2013 (K13) dan kelas IX menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

“Kalau bentuk soalnya sama. Hanya saja, saat pembuatan kisi-kisi soal, pembobotan nilai untuk K13 tidak hanya didominasi akademik sebagaimana KTSP. Namun juga diintegrasikan dengan keterampilan dan kepribadian anak,” jelas Kepala SMP Negeri 4 Lubuklinggau, Hj Erlinda Selasa (5/12).

Rentang waktu masa pengoreksiannya, kata Hj Erlinda, sama saja. Namun, khusus penilaian, hasil pengamatan guru selama proses pembelajaran sudah ada pengamatannya.

“Jadi hasil pengamatan selama proses pembelajaran ditambah hasil pengetahuan yang diujikan di akhir semester ini. Termasuk bagaimana kepribadian, kedisiplinan anak juga jadi pertimbangan penilaian,” jelasnya.

Selama ini, imbuh Erlinda, yang membuat nilai peserta didik ini anjlok, adalah ketidakmauan siswa untuk mengulang pelajaran.

“Ada sebagian anak yang murni hanya mengandalkan proses pembelajaran di kelas. Selebihnya, saat di rumah tidak pernah diulas lagi. Sementara kadang daya ingat siswa ini kan terbatas. Ketidakmau tahuan anak inilah yang kadang membuat nilai mereka anjlok,” jelas Hj Erlinda lagi.

Khusus penilaian, untuk KTSP dibuat secara manual. Namun untuk rapor K13 didownload dengan aplikasi.

“Sebenarnya ini (upload) dilakukan tidak hanya saat ini saja. Jadi setiap kali ulangan harian sekalipun, hasil pencapaian siswa diinput ke dalam aplikasi. Lalu dikirim ke Dapodik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Sehingga pencapaian masing-masing siswa terpantau secara nasional,” imbuhnya.

Selama ini di SMP Negeri 4 Lubuklinggau, rapor K13 memang masih manual.

“Hasil print-an itu diserahkan kepada anak. Sementara yang kita input di aplikasi itu langsung terkoneksi dengan Dapodik,” imbuhnya.

Hj Erlinda menilai K13 memberikan dampak yang positif ketika diterapkan. Namun memang untuk masa transisi dua tahun ini, realisasi K13 masih bertahap.

“Sebenarnya anak memang sedikit agak terkejut. Guru dituntut aktif memberikan pengarahan materi saja. Dan anak diminta aktif. Untuk memasuki tahun ke tiga ini, kami targetkan bisa maksimal 2018 nanti,” jelas Erlinda.

Sementara itu, Pengamat Pendidikan Prof DR Jalaluddin menerangkan masa transisi implementasi K13 ini diharapkan makin matang di masing-masing sekolah.

“Minimal guru tidak akan kesulitan mengaplikasikan program K13 di ruang kelas. Sebab pada kurikulum ini, guru bukan satu-satunya obyek pembelajaran siswa, tapi siswa diberi kesempatan untuk menggali ilmu pengetahuan dari berbagai sumber belajar seperti pemanfaatan internet di sekolah, jadi akan lebih efisien baik bagi guru maupun siswa,” jelasnya.

Menurut Prof DR Jalaluddin, menggunakan program K13, sistem belajar mengajar di satuan pendidikan di Kota Lubuklinggau dapat menjadi lebih baik dan meningkatkan kualitas SDM para pelajar.

“K13 memberikan banyak kesempatan pada siswa untuk berpendapat sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka, sehingga tentunya akan dapat membuat mereka lebih kritis dan tanggap terhadap pelajar maupun isu yang berkembang saat ini,” jelasnya. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita