oleh

Tyas Mirasih Tak Berani Muncul

Dilaporkan ke Polisi & KPAI

JAKARTA – Aktris Tyas Mirasih dilaporkan ke Polda Metro Jaya Senin (21/1) oleh nenek Amandine Cattleya, Harris Pohu. Didampingi kuasa hukumnya, Sunan Kalijaga Maryke melayangkan dua laporan sekaligus yakni penculikan anak dan eksploitasi anak yang diduga dilakukan oleh Tyas Mirasih.

Kuasa Hukum Maryke, Sunan Kalijaga membenarkan bahwa pihaknya telah membuat laporan polisi. Pada laporan pertama Maryke dijerat pasal 332 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang membawa lari anak di bawah umur.

Menurutnya, bahwa semenjak Maryke mengantongi surat putusan pengadilan tentang hak asuh anak pada tanggal 24 September 2018 lalu sampai hari ini, Tyas belum ada itikad baik mengembalikan Amandine kepada keluarga kandungnya.

“Jadi kami selaku kuasa hukum ibu Maryke kemarin sudah melaporkan public figure atau aktris yang berinisial TM bersama kawan-kawannya untuk dugaan kami pasalnya 332 KUHP tentang membawa pergi seorang anak perempuan di bawah umur dan ancaman hukumannya 7 tahun penjara,” jelas Sunan kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Selasa (22/1).

Dan laporan kedua adalah eksploitasi anak sebagaimana yang tertuang dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dijelaskan Sunan bahwa Tyas diduga mengeksploitasi Amandine dengan menjadikannya model endorsement untuk kepentingan bisnis atau komersil. Tyas membuatkan Amandine akun Instagram untuk mempromosikan produk-produk tanpa izin nenek Amandine, Maryke sebagai wali yang sah berdasarkan putusan Pengadilan Agama pada tanggal 24 September 2018.

“Kami duga anak kecil yang berusia lima tahun ini dibuatkan akun Instagram lalu dijadikan model endorsement yang mana kita sama-sama tahulah endorsement itu adalah sebuah transaksi bisnis komersil tanpa seizin pemegang wali yang sah,” jelas Sunan.

Setelah melaporkan Tyas ke Polda Metro Jaya Maryke didampingi tim kuasa hukumnya Agustinus Nahak, SH dan Apolos Djara Bonga, SH menyambangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada Senin (21/1).
“Kita mendampingi klien kita, nenek Maryke ke KPAI untuk membuat laporan. Ya, kita laporkan Tyas. Kita tahunya Tyas, jadi dari awal yang mengambil anak itu adalah Tyas,” kata Apolos kepada awak media.

Ia menyampaikan tujuan Maryke ke KPAI agar komisi itu turut membantu menyelesaikan masalah agar tidak berkepanjangan. Pasalnya menurut Apolos, sampai saat ini kliennya tidak bisa bertemu dengan cucu kandungnya sendiri karena Tyas.

“Klien kita melaporkan saudari Tyas Mirasih ke KPAI tentang yang pertama adalah soal hak asuh anak, yang kedua itu sebagai nenek kandung. Wali anak tidak dapat bertemu anak dan diduga anak tersebut dieksploitasi secara eekonomi oleh Tyas,” tambahnya.

Atas pelaporan ke KPAI tersebu Maryke berharap agar KPAI bisa turut mengambil langkah besar atas kasus yang menurutnya merugikan pihaknya.

“Tentunya pasti ini kami meminta KPAI untuk mengambil langkah-langkah yang persuasif. Tapi tidak ada unsur untuk mengambil langkah-langkah secara tegas, karena sangat jelas hak asuh anak ini jatuh kepada omanya, tidak ada orang lain,” ucap Apolos.

Mengetahui dirinya dipolisikan atas tuduhan penculikan dan eksploitasi anak, Tyas Mirasih angkat suara. Lewat akun Instagram pribadinya, Tyas menyanggah tuduhan bahwa dirinya mengeksploitasi Amandine dengan endorse. Menurut Tyas hal tersebut dilakukan Amandine tak ada unsur paksaan.

“Fakta: 1. Waktu itu Amandine endorse itu tidak berbayar. Setelah almarhum Sisilia Supriyadi meninggal, banyak online shop yang menawarkan endorsement untuk Amandine.

2. Waktu foto tidak pernah mengganggu waktunya Amandine sekolah, belajar dan istirahat.

3. Semua dilakukan Amandine atas dasar senang dan happy. Malah dia yang bawel lucu minta ganti-ganti pose. Terus bagian eksploitasinya di mana?” tulis Tyas Mirasih lewat akun Instagramnya, Senin (21/1).

Sunan Kalijaga mengatakan, upaya hukum yang dilakukan kliennya adalah upaya terakhir setelah upaya-upaya lainnya tidak membuahkan hasil. Menurut penuturan Maryke, setelah mendapatkan surat putusan pengadilan ia mendatangi rumah Tyas dan membawa surat putusan tersebut dengan harapan bisa membawa cucu semata wayangnya pulang. Namun bukannya diterima dengan baik justru ia pulang dengan perasaan kecewa.

“Ibu Maryke sudah datang ke rumah Tyas waktu itu setelah mendapat putusan pengadilan. Ibu datang membawa putusan pengadilan kasih lihat mau bawa pulang cucunya tapi informasi dari ibu Maryke kepada kami malah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dan kurang sopan dari si pihaknya Tyas suaminya karena katanya Tyas lagi gak ada di rumah,” jelas Sunan Kalijaga.

Sehingga kata ia lagi, Maryke sudah kehabisan akal lantaran upaya pendekatan yang dia lakukan tidak berhasil akhirnya ia memutuskan menempuh jalur hukum. Demi mendapatkan cucunya kembali, Maryke rela jika memang harus masuk sel tahanan.

“Karena dia (Maryke) sudah habis akal habis upaya-upaya kekeluargaan, jalur hukum dan mengimbau lewat media. Dia akan terus memperjuangkan cucunya kalaupun risikonya harus dipenjara katanya gak papa,” jelas Sunan.

Sunan Kalijaga menantang Tyas dan kuasa hukumnya untuk menunjukkan bukti surat asuh yang mereka kantongi. Dia berharap bisa duduk bersama menyelesaikan persoalan ini sehingga permasalahan hak asuh ini tidak melebar ke mana-mana.

“Kalau memang mereka punya bukti muncul dong. Saya juga tantang kok ‘kuasa hukumnya di mana’ apa kalian sedang melakukan konspirasi untuk melakukan hal-hal yang tidak baik sehingga kalian tidak mau muncul sekarang,? Kalau punya kebenaran punya bukti muncul dong. Ini sudah terlalu lama untul kalian tidak muncul ada apa?,” ujar Sunan menantang pihak Tyas.(dim/din/fin)

Rekomendasi Berita