oleh

Tunggu Rapid Test Corona

LINGGAUPOS.CO.ID– Dua pekan ke depan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau menunggu kedatangan alat tes Virus Corona atau rapid test. Alat tersebut akan disalurkan oleh Dinkes Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Hal ini diungkapkan Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Cikwi kepada Linggau Pos, Senin (23/3).

Jadi, selain penerapan social distancing (jaga jarak sosial) juga Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau juga akan ada menerapkan bakal efektif menekan penyebaran Virus Corona jenis baru SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Rapid test atau tes cepat Covid-19 telah dimulai sejak Jumat (20/3) di Jakarta Selatan. Selain itu, Jawa Barat juga akan menerapkan tes cepat untuk mendeteksi awal orang terpapar Virus Corona Covid-19 atau tidak.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyampaikan, sudah ada 125.000 kit untuk rapid test Corona Covid-19. Kit tersebut sebagai alat skrining Corona massal, apakah gejala seseorang mengarah pada Corona atau tidak.

125.000 Dibagikan Senin (dikirimkan ke Dinkes provinsi).

Achmad Yurianto menjelaskan, rapid test dipilih karena sampel darah yang diambil. Hasil dari skrining rapid test memang cepat, hanya memakan waktu kurang dari 2 menit.

Perlu dipahami bersama bahwa hasil negatif setelah Rapid Test tidak memberikan jaminan bahwa yang bersangkutan tidak sedang sakit. Ini karena tidak setiap infeksi virus pada hari yang sama langsung muncul (gejalanya).

Oleh karena itu, langkah yang harus dilakukan adalah pemeriksaan ulang setelah hari ke-7 sampai hari ke-10.

Ia menjabarkan langkah selanjutnya dari hasil rapid test ini. Menurut dia, apabila mereka yang mengikuti rapid test hasilnya negatif maka mereka tetap diminati untuk melakukan social distancing.

“Untuk menjaga jarak kepada siapapun. Karena hasil negatif tidak menjadi jaminan yang bersangkutan tidak terinfeksi,” jelasnya.

Pasalnya, Yurianto melanjutkan jika seseorang terinfeksi Covid-19 belum sampai tujuh hari, maka respons imunologi belum menunjukkan gejala yang bisa dibaca melalui rapid test. Maka hasilnya pasti negatif kendati tubuhnya telah terinfeksi.

“Oleh karena itu (tes) mesti diulang lagi pada tujuh hari berikutnya untuk membuktikan apakah benar-benar negatif,” terangnya.

Rapid test adalah suatu metode pemeriksaan cepat untuk melihat suatu infeksi di tubuh. Ada berbagai cara rapid test yang bisa dilakukan. Pada kasus Corona, Indonesia akan menggunakan metode pemeriksaan IgG dan IgM yang diambil dari sampel darah.

IgG adalah singkatan dari Immunoglobulin G dan IgM adalah kependekan dari Immunoglobulin M. Keduanya merupakan bentuk dari antibodi atau bagian dari sistem kekebalan tubuh. IgG adalah jenis antibodi yang paling banyak ada di darah dan cairan tubuh lainnya.

Antibodi ini, bertugas untuk melindungi tubuh dari infeksi dengan cara mengingat bakteri atau virus yang sebelumnya pernah terpapar di tubuh Anda. Saat virus atau bakteri itu kembali, tubuh sudah tahu bahwa ia harus dilawan. Sedangkan IgM adalah antibodi yang terbentuk saat Anda pertama kali terinfeksi oleh virus ataupun bakteri jenis baru. Bisa dibilang, IgM adalah garda terdepan pertahanan tubuh kita. Saat tubuh merasa bahwa ada infeksi yang akan terjadi, maka kadar IgM di tubuh akan meningkat, sebagai persiapan melawan virus atau bakteri.

Lalu, setelah beberapa saat, kadar IgM akan mulai menurun, digantikan oleh IgG yang akan melindungi tubuh dalam jangka waktu lebih lama.

Saat rapid test Covid-19 maka nantinya orang yang menjalani pemeriksaan ini kurang lebih akan diambil sampel darah dari ujung jari, lalu, sampel tersebut diteteskan ke alat rapid test, lalu cairan pelarut sekaligus reagen akan diteteskan di tempat yang sama, tunggu 10-15 menit dan hasil akan tampak di alat berupa garis.

Jika hasilnya positif, maka ada kemungkinan bahwa orang tersebut memang sedang mengalami infeksi.

Namun, hasil dari rapid test tidak bisa langsung dijadikan acuan untuk menganggap bahwa orang tersebut positif atau negatif infeksi Virus Corona. Jika hasil rapid test positif, maka orang tersebut perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut lagi menggunakan pemeriksaan swab tenggorokan dan hidung.

Hasil swablah yang bisa dijadikan pegangan seseorang positif atau negatif Covid-19.

Hal yang perlu diperhatikan seputar hasil rapid test.

Rapid test memang bisa berperan sebagai langkah penyaringan, untuk mempercepat deteksi infeksi Virus Corona. Meski begitu, ada hal yang perlu diperhatikan. Hasil rapid test, tidak 100 persen akurat.

Masih ada faktor-faktor lain yang bisa membuat alat ini mengeluarkan hasil false negatif atau negatif palsu.

Menurut Medical editor SehatQ, Anandika Pawitri rapid test dengan metode antibodi ini merupakan tindakan skrining dan bukan konfirmasi. Untuk bisa memastikan status positif Corona, pemeriksaan menggunakan swab harus tetap dilakukan.

“Saat alat itu membaca bahwa di tubuh kita ada IgG dan IgM yang terbentuk, itu artinya ada dua hal. Pertama, dia memang terinfeksi Corona, atau kedua, dia bisa aja cross reaction antibody dengan virus lain,” jelasnya.

Maksud dari cross reaction antibody dengan virus lain adalah di tubuh orang yang diperiksa, memang sedang terjadi infeksi virus, namun bukan infeksi Virus Corona.

Infeksi virus lain juga bisa mengubah kadar IgG dan IgM di tubuh, sehingga saat rapid test dilakukan, hasilnya akan keluar positif.

Ia menambahkan, apabila hasil pemeriksaan rapid test tersebut negatif, bisa disebabkan karena antibodi Covid-19, belum terbentuk di tubuh kita. Memang antibodi tersebut tidak akan langsung terbentuk di tubuh setelah paparan terjadi dan membutuhkan waktu beberapa hari. Jadi, bisa saja Anda melakukan pemeriksaan di waktu yang kurang tepat, sehingga antibodi belum terbentuk. Padahal, virus tersebut sudah ada di dalam tubuh.

Terakhir, dr Anandika menambahkan bahwa karena Virus Corona masih baru, masih banyak sifat-sifatnya yang belum diketahui secara jelas, termasuk waktu terbentuknya antibodi setelah paparan terjadi. Setelah Anda melalui prosedur rapid test dan mendapatkan hasil yang negatif, tetaplah menjalani karantina mandiri dan melakukan social distancing, selama setidaknya 14 hari. Apalagi, jika Anda mengalami gejala-gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Setiap Puskesmas Siaga Tim Covid-19

Setiap puskesmas sudah disiagakan Tim Covid-19. Tim ini terdiri dari dokter, perawat dan bidan. Hal itu diungkapkan Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Cikwi, Senin (23/3).

Untuk sementara, kata Cikwi, Tim Covid-19 dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan sarung tangan. Hanya saja, khusus untuk yang terdeteksi Corona APD standar juga sudah tersedia.

“Kami susah mengajukan anggaran untuk APD. Mudah-mudahan dalam waktu dekat semua petugas sudah punya APD standar dengan dana ke Pemkot Lubuklinggau,” jelasnya.

Tim Covid-19 ternyata tak harus punya keahlian khusus. Karena tim cukup melakukan penanganan awal. Sementara kalau sudah masuk ke rumah sakit rujukan, baru ditangani dokter spesialis paru-paru atau setidaknya dokter spesialis penyakit dalam.

“Karena ada foto thorax (rontgen). Maka, untuk membaca hasil rontgen harus ahlinya, seperti dokter spesialis paru-paru atau dokter spesialis penyakit dalam,” jelasnya.

Ia juga membenarkan Wali Kota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe akan menyiapkan insentif untuk para Tim Covid-19 ini.
“Nanti akan kami tindak lanjuti, sesuai petunjuk teknisnya,” jelasnya.

Pemda Siapkan Anggaran Khusus

Pencegahan wabah Virus Corona, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura) menyiapkan anggaran Rp1 miliar, dari dana tanggap darurat. Sebab, dana itulah yang paling cepat bisa digunakan. Karena untuk pergeseran anggaran, membutuhkan waktu. Karena, Virus Corona ini sudah masuk bencana dunia, bukan hanya bencana nasional.

Hal ini disampaikan Bupati Mura, H Hendra Gunawan usai rapat koordinasi dengan dinas dan stakeholder terkait di Auditorium Pemkab Mura, Senin (23/3).

Menurut Hendra, semua anggaran yang bisa digeser harus digunakan untuk penanganan Virus Corona. Sebab payung hukumnya sudah jelas.

“Anggaran yang bisa digeser, khususnya kesehatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain silakan pakai. Karena payung hukumnya sudah jelas ada,” jelasnya.

Sementara, besaran dana untuk dana tanggap bencana belum diketahui, tapi ada dana yang standby, yakni dana tanggap darurat Rp1 miliar.

Hendra menjelaskan, rakor yang dilaksanakan bersama dengan dinas dan stakeholder terkait untuk melakukan evaluasi. Melihat action selama seminggu yang lalu, melakukan cek dan ricek apa protap-protap protokol yang sudah mulai dari pusat sampai ke bawah dan implementasinya sampai ke bawah. Sehingga, kalau masih ada yang kurang akan diperbaiki dan ditingkatkan di posisi yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan itu.

Ia mengharapkan setiap minggu dilakukan evaluasi terhadap kinerja yang sudah dilakukan, melalui metode yang lain.

“Kita juga akan lihat perkembangan virus ini. Kalau semakin merajalela, mungkin kita semakin mengurangi cara yang selama ini kita terapkan. Mungkin rapat koordinasi melalui inovasi atau apalah, yang dapat mencegah penularan virus ini,” jelasnya.

Hal sama disampaikan Sekda Kota Lubuklinggau, H Rahman Sani untuk sementara pencegahan penyebaran Virus Corona di Kota Lubuklinggau menggunakan dana tanggap darurat yang nominalnya lebih kurang Rp1 miliar.

Kepala Dinkes Kota Lubuklinggau, Cikwi menambahkan ke depan bisa lebih dari Rp1 miliar, tergantung kasus Covid-19 ini seperti apa ke depan.

Sementara Bupati Muratara, HM Syarif Hidayat menegaskan kalau Pemkab Muratara serius penangan mengenai Covid-19, ia katakan bahwa untuk mencegah Covid-19 di Muratara, pihaknya telah menyisihkan anggaran untuk itu.

“Kita menggeser anggaran tidak terduga, dan kita gunakan untuk biaya pencegahan Virus Corona, anggaran itu ada kisaran Rp400-500 juta,” jelas H Syarif Hidayat.

Anggaran nantikan, lanjut Bupati, akan dimanfaatkan untuk biaya pembelian alat-alat pencegahan seperti pelindung diri dan alat lainnya, serta dengan anggaran itu juga beberapa hal pencegahan akan dilakukan.(*)

Artikel sudah terbit di Harian Pagi Linggau Pos dengan judul”Tunggu Rapid Test Corona”

Rekomendasi Berita