oleh

Tujuh Tahun Berjuang Menanti Momongan

Program Bayi Tabung Perdana di RS AR Bunda (1)

Tangis Ar Rahman Khalif Putra Budi memecah seisi ruang bedah RS AR Bunda, pukul 14.30 WIB, Jumat (24/8). Putra pertama dr Novriska B dan Budi Irian itu menjadi buah hati pertama yang lahir dari program bayi tabung RS AR Bunda Lubuklinggau.

Laporan Sulis, Bandung Kiri

AR RAHMAN Khalif Putra Budi baru saja selesai dimandikan. Tubuhnya yang mungil dibalut bedong. Ia tampak tenang berada di atas stroler bayi yang didorong seorang perawat bersama sang ayah, Budi Arian.

Keduanya lalu menyapa sang bunda, dr Novriska B yang sedang saya bincangi, Minggu (26/8) petang. dr Novriska B masih tampak lemah. Pasca operasi caesar melahirkan Ar Rahman, ia belum boleh banyak bergerak. Di pergelangan tangan kanannya masih terpasang infus.

Di tengah rona bahagia pasangan yang menikah 3 April 2011 itu, ada kisah perjuangan yang jadi catatan penting sebelum keduanya memutuskan untuk memilih program bayi tabung.

“Kami sudah tujuh tahun menikah. Berobat sudah ke mana-mana. Dokter mana saja kami cari, sesuai kata orang katanya dokter ini bagus, kami datangi. Bahkan bukan hanya Kota Palembang. Konsultasi kami lakukan sampai ke Kota Tebing Tinggi, Sumatera Barat,” terang dr Novriska di awal perbincangan.

Terakhir kali konsultasi pertengahan tahun 2017, dokter yang bertugas di BNN Kota Lubuklinggau itu ingin konsultasi dengan dokter kandungan di Kota Palembang.

“Kebetulan dokternya sedang ke luar negeri. Jadi konsultasi tertunda. Saya balik ke Lubuklinggau lagi,” terang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Pulang pergi dari kantor ke rumahnya di Jalan Kenanga Lintas, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II membuat dr Novriska harus melintasi RS AR Bunda setiap hari.

“Waktu itu, lupa kapan, yang pasti masih 2017 aku lihat di plang AR Bunda ada program inseminasi. Tertarik dengan itu, aku langsung konsultasi dengan dr Wahyu, Sp.OG. Sebagaimana dokter-dokter yang sebelumnya pernah jadi tempat saya konsultasi mengatakan, saya dan suami kondisinya sehat-sehat saja. Namun, karena riwayat perjuangannya sudah ke mana-mana, usia saya sudah 36 tahun, dan usia perkawinan yang sudah 7 tahun, maka dr Wahyu menyarankan saya inseminasi,” terang dr Novriska.

Inseminasi dilakukannya September 2018. Satu bulan kemudian ia kontrol lagi untuk memastikan hasilnya. Novriska sempat kecewa, karena belum berhasil.

“Hasilnya masih negatif,” terang dia.

Untuk program inseminasi itu, ia harus merogoh kocek Rp 13 juta.

“Kalau soal biaya, segitu memang sudah wajar. Bahkan tergolong amat terjangkau. Karena layanannya sangat bagus,” terang dr Novriska.

Setelah itu, ia tetap tak menyerah. Didampingi sang suami, dr Novriska kembali konsultasi dengan dr Wahyu, Sp.OG. Akhirnya dr Wahyu menganjurkan dr Novriska untuk mencoba sistem pembuahan alami lagi.

“Bulan November 2017 saya cek, masih negatif lagi. Sudah enggak terhitunglah berapa kali saya tespack. Lalu saya konsultasi lagi ke dr Wahyu,” kata dr Novriska.

Saat konsultasi, dr Wahyu memberi penjelasan yang membuat dr Novriska justru makin optimis untuk segera memiliki buah hati. (Bersambung)

Rekomendasi Berita