oleh

Tujuh Saksi Digilir KPK

Terkait Dugaan Suap Mutasi dan Rotasi di Pemkab Cirebon

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus mendalami perkara dugaan suap terkait mutasi, rotasi, dan promosi jabatan di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon serta penerimaan gratifikasi oleh Bupati nonaktif, Sunjaya Purwadisastra.

Hari ini penyidik mendatangkan total tujuh orang saksi untuk diperiksa. Dalam perkara dugaan suap jual beli jabatan, KPK meminta keterangan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Cirebon Eni Suhaini dan Pegawai PT Elteyba Tour Nurlaila. Sementara, sisanya termasuk Direktur PT Insan Perdana Teknik, Asep Pratama Hidayat, diperiksa untuk kasus dugaan gratifikasi.

“Penyidik hari ini memeriksa total 7 saksi terdiri atas 6 dari swasta dan seorang Kadis Kesehatan di Kabupaten Cirebon sebagai saksi untuk tersangka Sunjaya Purwadisastra,” ujar Febri kepada awak media, Selasa (22/1).

Febri menjelaskan, pemanggilan ketujuh saksi terkait pendalaman mengenai dugaan adanya penerimaan-penerimaan lain yang diterima tersangka Sunjaya. Penerimaan tersebut diduga terkait mutasi, rotasi, dan promosi jabatan maupun gratifikasi.

Hingga saat ini, KPK telah menetapkan dua tersangka dalam kasus tersebut. Yaitu, Bupati Cirebon periode 2014-2019 Sunjaya Purwadisastra dan Sekretaris Dinas PUPR Gatot Rachmanto. Keduanya diamankan saat operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar KPK di Cirebon, Jawa Barat, pada 24 Oktober 2018 lalu.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan menetapkan 2 orang sebagai tersangka. Diduga sebagai penerima SUN. Diduga sebagai pemberi GAR,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, 25 Oktober 2018 lalu.

Sunjaya diduga menerima aliran dana dari Gatot sebesar Rp100 juta. Uang tersebut diduga sebagai imbalan atas mutasi dan pelantikan Gatot. Alasannya, sebagai tanda terima kasih Gatot kepada Sunjata. Dana diserahkan usai Gatot dilantik Sunjaya sebagai Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Cirebon.

Selain itu, KPK juga mengamankan sejumlah bukti saat operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan pada 24 Oktober 2018 lalu. Yakni, uang sebesar Rp385.965.000 dengan rincian, Rp116 juta dalam pecahan seratus ribu, serta Rp269.965.000 dalam pecahan lima puluh ribu. Bukti ini yang menjadi dugaan dasar bahwa ada gratifikasi selain yang diberikan Gatot kepada Sunjaya.

Status Gatot Rachmanto kini telah ditingkatkan menjadi terdakwa. Hal ini sejalan dengan persidangannya yang telah digelar di Pengadilan Tipikor, Bandung, Jawa Barat.

Atas perbuatannya, Sunjaya selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (riz/fin/ful)

Rekomendasi Berita