oleh

Tol Trans Jawa Rusak, Pengusaha: Kejar Target Demi Kepentingan Politik

JAKARTA – Jalan Tol Trans Jawa ruas Salatiga-Kartasura yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo baru-baru ini, mengalami kerusakan berupa keretakan pada jalan. Bahkan pondasi penahan ruas tol kanan-kirinya juga mengalami longsor.

Amblasnya tol tersebut berada di Kilometer 491 atau kawasan timur Balai Desa Tanjungsari, Banyudono, Boyolali dan ruas jalan Tol Pemalang-Batang KM 321 menuju Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) sebagai pengelola tol sendiri menjelaskan, bahwa terjadinya longsor disebabkan oleh intensitas hujan yang cukup deras dan saluran air yang belum selesai pengerjaannya. Terlebih, posisi jalan tol di daerah tersebut lebih tinggi sekitar 5 meter dibandingkan dengan areal persawahan di kanan-kirinya.

“Jalan tol tersebut ditinggikan dengan timbunan tanah dan untuk menahan timbunan tanah itu dibangun talut. Talut sebenarnya masih dalam pengerjaan tetapi karena jalan tol Salatiga-Colomadu difungsikan untuk libur Natal dan Tahun Baru,” kata Direktur Teknik PT JSN, Aryo Gunanto, dalam pernyataan resminya di Jakarta, Senin (21/1).

Dia menambahkan, Tanah longsor pada talut dipicu kondisi hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Selain itu, ada saluran air yang belum sempurna pengerjaannya sehingga timbul rongga yang kemudian terjadi longsor akibat tergerus air hujan.

Kendati demikian, kendaraan yang melintas jalan tol baik dari Salatiga- Colomadu atau sebaliknya tetap lancar. Kendaraan yang melintas tidak sampai terganggu akibat talut longsor. JSN akan melanjutkan pekerjaan talut dan saluran air di ruas tol tersebut dan memasang rubber cone untuk mengamankan lokasi.

Sementara itu, PT Sumber Mitra Jaya (SMJ) selaku pengembang di ruas tol kilometer 321 menjelakan, saat ini kerusakan tersebut tengah dilakukan penanganan. Longsoran tanah yang menutupi jalan desa sudah pindahkan, dan kini kami masih menangani kerusakan pada ruas tol kilometer 321.

“Retakan akan ditambal, sementara penahan ruas tol yang longsor akan dilakukan pengecoran ulang,” ujar Humas SMJ, Damanhuri.

Menananggapi peristiwa rusaknya ruas tol Trans Jawa yang baru saj diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) menilai bahwa, pembangunan ruas tol Trans Jawa ini tidak memiliki perencanaan yang bagus. Bahkan dia melihat, proyek infrastruktur ini terkesan kejar target.

“Membangun kontruksi ini kan, memang harus direncanakan dengan baik, perencanaannya harus baik, pengawasannya juga harus baik, tidak harus mengejar target atau bagaimanpun pekerjann cepat selesai. Akan tetapi bagaimana menjaga kualitas dan mutu,” kata Sekjen Gapensi, Andi Rukman Karumpa kepada Fajar Indonesia Network (FIN)

Andi menambahkan, terjadinya peristiwa longsornya di ruas badan tol Trans Jawa, tidak semata-mata menyalahkan kondis curah hujan yang tinggi. Menurutnya, pemerintah dan pengembang utamnya harus memperhatikan proyek pekerjaan tersebut sesuai dengan spesifikasinya.

“Yaa tidak boleh juga kita mempermasalahkan curah hujan, akan tetapi bagaimana pekerjaan harus berjalan sesuai dengan spek. Saya juga tidak menuduh bahwa pekerjaan itu tidak sesuai spek. Tapi kalo perencanaannya bagus, pengawasannya bagus, pasti kualitasnya juga bagus,” ujarnya.

“Kalau curah hujan cukup tinggi, harusnya pekerjaan tol itu tiap hari harus di maintenance yakan, dilihat supaya tidak ada air yang tergenang disitu. Nah, karena pembuangannya engga bagus ya seperti itu,” tambahnya.

Dia juga menilai, bahwa rusaknya sejumlah ruas tol Trans Jawa akibat pemerintah kejar target demi kepentingan politik. Artinya, pemerintah ingin mendeklarasikan diri bahwa pembangunan infrastruktur berhasil dilakukan di pemerintahannya. Alhasil proyek tersebut dikerjakan dengan cepat tanpa perhitungan.

“Sekali lagi saya minta tolong, jangan ditarik kerana politik gitu loh, tolong jangan diarahin kesana. Dulu pak SBY punya peninggalan sejarah yang bagus, karena dilanjutkan oleh pak jokowi, setelah pak jokowi infrastruktur ini tidak boleh berhenti siapa pun itu dia tidak boleh ada yang mengklaim,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan pengamat tranportasi, Yayat Supriatna. Dia melihat bahwa, terjadinya longsor pada ruas tol Trans Jawa dikarenakan persoalaan strukturnya yang belum sempurna. Lebih jauh kata dia, proyek ini juga terkesan mengejar target.

“Kalau jalan itu retak atau lonsor itu pasti penyebabnya air. Nah disini persoalaannya, mulai dari persoalan antisipasi cuaca mungkin tidak terperhatikan secara maksimal, sistem renasi yang berada sepanjang koridor itu juga belum terpetakan dengan bangus, kemudia juga dengan kondisi tanahnya yang kurang setabil, dan percepatan pengerjaanya mengejar target,” kata Yayat kepada FIN.

Untuk itu dia meminta, pengerjaan proyek selanjutnya yang dilakuan oleh pengembang harus lebih memerhatikan persoalan-persoalan yang saat ini terjadi. Hal itu, supaya peristiwa serupa tidak terulang kembali, karena kan membahayakan pengguna trasnportasi.

“Nah jadi pr selanjutnya itu jangan hanya satu titik, seluruh jaringan baru jalan tol yang kemungkinan mengalami tekanan akibat curah hujan yang tinggi tolong dicermati, diawasi, apakah kemungkinan terjadi lagi ditempat lain,” tuturnya.

“Jadi semua operator jalan tol itu harus segera mengecek lagi kondisi di lapangan, apakah pada lokasi-lokasi yang kemarin ada pemadatan, ada pengurukan, ada penimbunan, punya maslaah tidak, supaya tiba-tiba jalan itu tidak mengalami longsor atau kerusakan,” tambahnya.

Apalagi kata dia, PT Jasa Marga (Persero) mulai memberlakuakan penerapan tarif di tujuh ruas Tol Trans-Jawa. dimulai hari ini, Senin (21/1).

“Bagaimana dengan kondisi sekarang yang mulai bayar?. Nah kalau sudah mulai bayarkan, berarti masyarakat sudah mulai harus siap-siap, nanti jangan sampai begitu bayar ada kerusakan. Kalo gratis kemarin kan, oke lah engga masalah kita bisa memahi, bisa menerima. Tapi kalau udah bayar kaya gini kan masyarakat mengalami kerugian atau gangguan di perjalanan,” pungkasnya, (der/fin)

Seperti diketahui, tol sepanjang 933 km ini memiliki lebih dari 20 ruas tol yang terbentang dari Merak hingga Grati, Pasuruan. Selama libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, ada sejumlah ruas yang belum bertarif alias Rp0.

Besaran tarif Tol Trans Jawa (dimulai dari Jalan Tol Jakarta-Cikampek sampai Gempol-Pasuruan) adalah sebesar Rp512.000 untuk kendaraan golongan I.

Berikut rinciannya:

Jakarta-Cikampek: Rp15.000.

Cikopo-Palimanan: Rp102.000.

Palimanan-Kanci: Rp12.000.

Kanci-Pejagan: Rp29.000.

Pejagan-Pemalang: Rp57.500.

Pemalang-Batang (Segmen Sewaka-Pemalang IC): Rp5.500.

Semarang ABC: Rp5.000.

Semarang-Solo (Segmen Semarang-Salatiga): Rp33.000.

Solo-Ngawi: Rp90.000.

Ngawi-Kertosono (Segmen Ngawi-Wilangan): Rp48.000.

Kertosono-Mojokerto (Segmen Bandar-Mojokerto): Rp46.000.

Surabaya-Mojokerto: Rp36.000.

Surabaya-Gempol (Segmen Waru-Porong): Rp4.500.

Surabaya-Gempol (Segmen Kejapanan-Gempol IC): Rp3.000.

Gempol-Pandaan (Segmen Gempol IC-Gempol JC): Rp2.500.

Gempol-Pasuruan (Segmen Gempol JC-Pasuruan): Rp23.000.

Rekomendasi Berita