oleh

Toko Online Tawarkan Banyak Kemudahan

#Tren Belanja 2019

INDUSTRI retail mengalami transformasi yang luar biasa dalam satu dekade terakhir dan akan terus berevolusi. Definisi pasar pada 2019 akan banyak ditentukan oleh kemajuan teknologi. Inilah yang telah mengubah pola interaksi konsumen dengan brand favorit mereka, menggeser preferensi orang per orang, dan memunculkan pelanggan baru untuk perang e-commerce (perdagangan elektronik).

**** Merek adalah budaya

Semakin banyak orang belanja atas dasar keinginan, bukan karena punya uang. Di tengah fenomena ini muncul generasi milenial yang berbeda secara perilaku maupun preferensinya.

Kondisi ini berdampak pada brand retail, termasuk cara mereka memosisikan diri di hadapan konsumen. Berbelanja dengan penuh kesadaran dan bertanggung jawab seolah menjadi sebuah kewajiban. Pun sebaliknya, konsumen sekarang membeli barang yang sesuai identitas serta kultur yang mereka adopsi.

**** Pengiriman e-commerce lebih cepat

Popularitas e-commerce akan terus meroket setelah ekspansi mereka mencapai 11,4 persen pada September 2018. Hampir semua brand besar kini jualan online, dengan harga “bersaing”.
Riset terbaru menyebutkan, pembeli jaman now tak lagi rela menunggu promo bebas Ongkos Kirim (Ongkir). Mereka kini memiliki banyak alternatif peritel online yang berani memberikan garansi pengiriman cepat, meski opsional. Tren ini akan terus berlanjut 2019 walaupun sistem pengiriman barang dengan drone belum sepenuhnya terealisasi.

**** Belanja adalah pengalaman

Dulu, orang tua kita belanja untuk memenuhi kebutuhan. Jadi mereka fokus pada produk yang akan dijual. Namun, pembeli kekinian slow but sure lebih mencari pengalaman berbelanja, bukan produknya.

Toko fisik satu per satu gulung tikar. Daya pikat mereka digantikan toko online yang menawarkan berbagai kemudahan. Uniknya, di tengah fenomena berkelindan ini, bermunculan pop-up store yang menampilkan produk-produk tidak biasa. Dan, anehnya orang tetap akan membeli meski tidak sedang sale.

Realitas virtual, augmented reality, dan mobile technology memaksa brand berpikir keras memanjakan pelanggan dengan cara seperti yang diinginkan.

**** E-commerce berlangganan

Bukan hanya benda seni yang harus melalui proses kurasi agar layak dipamerkan. Pebisnis masa kini “mengakurasi” produk yang akan dijual. Kondisi ini dipengaruhi perilaku konsumen yang ditengarai menginginkan barang “berbeda” dari biasanya.

Kurasi produk pada akhirnya berimbas pada nama baik toko online. Demi memegang trust publik, e-commerce menerapkan model berlangganan yang akan terus membangun momentum tahun depan.

***** Multijaringan itu biasa

Kekuatan jaringan diuji di sini. Riset Omni-Channel menyebut 11,8 persen generasi Z dan 25 persen baby boomers berbelanja di platform media sosial. Milenial lebih intens membeli barang via Instagram.

Ini membuktikan bahwa wirausaha mandiri belum “mati”. Bahkan, orang-orang seperti mereka semakin banyak. Menyodorkan keunikan masing-masing, mereka merambah banyak jaringan. Dari situs belanja online, marketplace, media sosial, bazar, hingga pop-up store.(hns/*)

Rekomendasi Berita