oleh

Tingkatkan Motivasi Dalam Belajar

Pasca Ikuti Seminar Internasional

LINGGAU POS ONLINE, LUBUK KUPANG – Program seminar internasional sekaligus berkunjung ke tiga universitas dan sekolah terpadu di dua negara, yakni Malaysia dan Singapura, berdampak positif untuk mahasiswa pasca sarjana STIE Musi Rawas Lubuklinggau. Salah satunya, yang dirasakan oleh Evvy Andayani.

Menurut Direktur Pascasjana STIE Musi Rawas-Lubuklinggau, Abdullah Hehamahua didampingi pembimbing Evvy, DR Betti Nuraini, inilah yang memang diharapkan pihak kampus dengan dilaksanakannya kegiatan ini.

“Untuk tahap pertama ada 76 mahasiswa pasca sarjana kita yang ikut. Dengan harapan, pasca mengikuti kegiatan ini, bisa menjadi motivasi mereka untuk mengubah cara belajar. Mereka bisa mencontoh, bagaimana cara belajar mahasiswa di sana. Seperti pukul 02.00 WIB dini hari, mereka masih belajar di perpustakaan, yang memang sangat ditunjang dengan fasilitas yang memadai,” ungkap Abdullah Hehamahua.

Mulai dari ruang membaca, ruang belajar, ruang diskusi, ruang makan snack dan ruang istirahat khusus mahasiswa pasca sarjana sangat memadai dan nyaman untuk digunakan. Maka wajar, mahasiswa di sana nyaman serta konsentrasi dalam belajar.

“Bahkan di sana ada 2 juta judul buku berbentuk hard copy, yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa. Kita berharap, semangat mereka bisa ditularkan oleh mahasiswa kita. Tidak hanya cara mereka belajar, kita juga ingin menunjukkan bagaimana budaya disiplin mereka. Dengan harapan bisa mereka terapkan, setelah mereka pulang mengikuti seminar internasional,” jelasnya.

Tahap kedua, akan kembali dilanjutkan. “Insya Allah, dilaksanakan Mei 2018 mendatang. Kita bangga di tahap pertama, ada satu mahasiswa kita, Evvy Andayani yang bagus dalam mempersentasikan tesisnya,” tambahnya.

Senada diungkapkan oleh DR Betti Nuraini, yang membimbing Evvy. Ia bangga, mahasiswa pasca sarjana STIE bisa go internasional, meskipun mereka dari daerah yang katanya tidak ada di dalam peta.

“Dan kita bangga, tesis mahasiswa pasca sarjana kita, tersimpan di Universitas Teknologi Mara (UITM) Shah Alam Malaysia. Meskipun sebelumnya, dua bulan kita sudah mempersiapkan Evvy dengan rutin melakukan bimbingan. Kita pun tidak salah pilih, karena Evvy punya kepercayaan diri untuk mempertahankan tesisnya. Dan ini ternyata dilakukannya, saat mempersentasikan tesisnya. Satu pesan saya sebelum dia berangkat, tidak ada yang lebih paham dengan hasil penelitiannya selain dirinya sendiri,” jelasnya.

Evvy sendiri mengaku, kesempatan yang diberikan pembimbingnya merupakan suatu penghargaan baginya. Untuk itu, ia langsung menyanggupi ketika diminta mewakili teman-temannya untuk mempersentasikan tesis di Universitas Teknologi Mara (UITM) Shah Alam Malaysia.

“Selain penghargaan dan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya sendiri memang suka dengan tantangan. Makanya saya mau, dan alhamdulilah berhasil. Dan jujur, ini menjadi pengalaman yang tidak bisa saya lupakan sampai saat ini,” ungkapnya.

Apa yang diharapkan pihak kampus, betul-betul ia rasakan. Enam hari dengan mengunjungi empat lokasi yakni Universitas Teknologi Mara (UITM) Shah Alam Malaysia, Universitas Islam Internasional Antar Bangsa Malaysia (UIIM), Sekolah Abim Malaysia National dan University of Singapore, betul-betul membukakan matanya serta meningkatkan semangatnya dalam belajar.

“Kita betul-betul menyaksikan, bagaimana mahasiswa di sana belajar dan disiplin. Kemudian fasilitas, yang memang sangat mendukung mereka. Makanya, materi pergeseran ekonomi dari SDA ke SDM menjadi materi laporan saya yang diminta oleh pihak kampus pasca seminar internasional. Di sana saya ungkapkan mengapa Indonesia yang kaya akan SDA masih tertinggal dengan Malaysia dan Singapore, karena SDM mereka ditunjang dengan fasilitas yang sangat memadai. Untuk itu, jika Indonesia ingin memperkuat SDM maka benahi fasilitas terlebih dahulu, Baru didukung dengan regulasi,” ungkapnya. (09)

Komentar

Rekomendasi Berita