oleh

Tinggal di Gubuk, Tak Pernah Dapat Bantuan

BPS Klaim Angka Kemiskinan Turun

LINGGAU POS ONLINE, LUBUK TANJUNG – Rumah Iman (40) kerap difoto. Ia juga pernah dijanjikan dapat rumah. Namun nyatanya, Iman belum pernah mencicipi bantuan pemerintah. Baik Program Keluarga Harapan (PKH), maupun jaminan kesehatan, berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Saya tinggal di sini sudah 5 tahun empat bulan. Saya rantauan dari Jawa. Niatnya mau cari kerja,” jelas Iman, bersama ketiga putranya, saat dibincangi Linggau Pos, Kamis (14/12).

Saat Linggau Pos masuk ke kediaman Iman, tak ada sekat di rumah berukuran 2,5×3 meter. Bagian depan, berlantai semen plester. Di situ pula sebuah kasur lusuh dan almari pakaian sederhana diletakkan. Agak ke belakang, tungku kayu bekas memasak masih berserakan.

“Kami memasak menggunakan kayu,” terang Iman sambil menunjukkan dapur rumahnya.

Rumah ini hanya sebagian yang berdinding papan. Sebagian besar berdinding geribik, dan tempelan-tempelan seng yang sudah usang. Meski begitu, Iman sudah lima tahun lebih mendiami rumah ini.

“Ini tanah tetangga. kalau listrik saya menyambung dengan tetangga lain,” kata iman.

Keseharian Iman yang menjadi pencari rongsokan hasilnya belum mampu untuk membeli rumah. Terlebih di kawasan perkotaan.

“Uang hasil mencari barang rongsokan, hanya cukup untuk memberi makan tiga anak saya. Karena istri saya juga sudah meninggal. Mengenai penghasilan per bulan tidak menentu. Paling hanya 200-300 ribu,” jelasnya.

Iman menceritakan, dulu pernah diberi iming-iming dari pemerintah sebuah tanah kecil beserta bangunan. Tapi sudah satu tahun tidak ada kabar.

Di tengah kesusahannya itu, Iman berharap agar pembagian bantuan dari pemerintah rata dan tepat sasaran. Tidak hanya janji saja.

“Semoga dengan bantuan dari pemerintah saya bisa menyekolahkan anak saya lagi, terutama anak pertama saya Agus yang berhenti kelas 5 SD,” jelasnya.

Di tengah situasi sebagian warga yang masih ‘sulit’ hidupnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Lubuklinggau mengklaim jumlah penduduk miskin di Kota Lubuklinggau mengalami penurunan.

Kepala BPS Lubuklinggau, Aldianda Maisal melalui Bagian Integrasi Pengelolaan dan Desiminasi Statistik (IPDS), Canggi Man mengatakan, jumlah warga miskin di Lubuklinggau menurun.

“Dari data yang kami miliki pada tahun 2015 ada 33.210 orang jumlah penduduk miskin atau 15,16 %. Pada tahun 2016 jumlah tersebut menurun menjadi 31.050 orang penduduk miskin atau 13,54 %,” katanya.

Menurut dia, penurunan jumlah penduduk miskin tersebut dipengaruhi oleh berbagai program penanggulangan kemiskinan dari Pemkot Lubuklinggau yang telah dilaksanakan dengan baik.

“Program-program tersebut bertujuan untuk pengentasan kemiskinan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di semua daerah. Program pengentasan tersebut juga dapat menciptakan lapangan kerja yang memadai dengan harapan mampu mengurangi pengangguran yang muaranya juga menekan angka kemiskinan,” jelasnya

Program tersebut diantaranya, kegiatan yang menumbuhkan industri padat karya, perdagangan, dan keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Seiring dengan penurunan angka kemiskinan itu, pertumbuhkan ekonomi di Kota Lubuklinggau selama beberapa tahun terakhir tercatat juga meningkat.

“Meningkatnya jumlah itu, mungkin Lubuklinggau termasuk kota berkembang, dan untuk data jumlah penduduk miskin Lubuklinggau tahun 2017 belum dirilis oleh BPS. Data yang sekarang masih berpatokan dengan data tahun 2015 sampai 2016 sedangkan tahun 2017 belum diperoleh,” ungkapnya

“Tapi, secara garis besar penduduk yang masuk kategori miskin, kalau rata-rata pengeluaran atau pendapatan per kapita per bulannya di bawah garis kemiskinan atau sebesar Rp 393 ribu per bulan. Disamping itu, dilihat dari ketidakmampuan atau sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar baik makan dan pengeluaran,” tegasnya.(CW01/CW02)

Komentar

Rekomendasi Berita