oleh

Tiga Hotel Diduga Sarang Maksiat

Kasat Pol PP Kota Lubuklinggau, Elbaroma

“Bila di hotel kembali kedapatan ada tamu melakukan yang sama (zina,red), maka Sat Pol PP akan merekomendasikan untuk pencabutan izin dan ditutup…”

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pemilik modal untuk berinvestasi di kota ini. Termasuk membangun bisnis perhotelan.

Namun faktanya, diduga tidak semua pemilik hotel menjalankan prosedur registrasi dalam penerimaan tamu. Sat Pol PP Kota Lubuklinggau seringkali menerima laporan, setidaknya ada tiga hotel kelas melati yang kerap dijadikan tempat maksiat.

Kasat Pol PP Kota Lubuklinggau, Elbaroma membeberkan, hotel-hotel tersebut terletak di Jalan Yos Sudarso hingga Jalan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II .

“Hotel-hotel tersebut ada yang sudah diberikan surat peringatan oleh Sat Pol PP, bahkan ada yang sampai dua kali dapat surat peringatan. Maka, bila di hotel kembali kedapatan ada tamu melakukan yang sama (zina,red), maka Sat Pol PP akan merekomendasikan untuk pencabutan izin dan ditutup,” tegas Elbaroma.

Ia memastikan, timnya melakukan razia bukan hanya menjelang bulan Ramadhan saja, tapi untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat. Selain itu, razia juga berguna untuk menghindari masuknya teroris ke wilayah Kota Lubuklinggau.

“Sasaran kita memang hotel-hotel melati dan kos-kosan, karena beberapa kali dirazia dua tempat itu sering dijadikan tempat maksiat, terutama pasangan mesum,” ungkap Elbaroma dengan nada geram.

Menurut Elbaroma, sebenarnya perbuatan maksiat yang sering terjadi di hotel melati dan kos-kosan bisa meminimalisir dengan kepedulian masyarakat, terutama lembaga adat dan pemerintah setempat dalam hal ini Ketua Rukun Tetangga (RT).

“Namun, bila dua unsur tersebut sudah acuh tak acuh dengan lingkungan, maka moral generasi penerus di lingkungan domisili hotel dan kos-kosan tadi rusak dengan sendirinya, mereka akan ikut melakukan perbuatan yang sama,“ paparnya.

Maka dari itu, ia mengajak semua pihak untuk ikut berperan dalam meminimalisir terjadinya perbuatan maksiat, terutama di bulan suci Ramadan. Selain itu, mengimbau pengusaha-pengusaha hotel untuk menjalankan usaha sesuai peruntukan dan izin yang sudah diterima.

***Pezina Harusnya Dirajam Sampai Meninggal Dunia

Terpisah, UDR (Hc) KH Saiful Hadi Ma’afi menjelaskan dalam ajaran Islam zina merupakan salah satu dosa besar dan perbuatan yang sangat dibenci Allah.

Dan perlu diketahui, kata Pendiri Pesantren Ar Risalah itu, zina terbagi dua macam, yakni zina sesama orang yang sudah menikah dan zina perawan/janda dengan bujang/duda.

“Sanksi bagi dua perbuatan tersebut sama besar, yakni dirajam sampai meninggal dunia dan dicambuk 100 kali.

“Tapi, dalam hukum Islam untuk membuktikan perzinaan dibutuhkan empat orang saksi, tiga saksi belum cukup untuk meyakinkan hakim,” terang Ust Syaiful Hadi.

Jadi, walaupun hukumannya berat namun tidak mudah untuk membuktikan orang sedang melakukan perzinaan, dalam ajaran Islam.

Walaupun orang berlainan jenis digerebek sedang berduaan dalam kamar hotel. Meskipun dalam akal pikiran kita, perbuatan zina itu jelas terjadi, namun kita tidak bisa mengira bahwa mereka telah melakukan perbuatan zina.

Terkait penyelesaian masalah tersebut, menurut Ust Syaiful Hadi dibutuhkan kerjasama semua pihak baik masyarakat setempat maupun pemerintah daerah, agar hal yang sama tidak terulang lagi karena dapat merusak moral generasi penerus.

“Ingat, pemimpin yang membiarkan warganya atau masyarakatnya melakukan perbuatan yang berdosa merupakan, maka pemimpin itupun turut berdosa,” tegasnya. (01/02)

Rekomendasi Berita