oleh

Tidak Berdaya Tertibkan Penambang Ilegal

Tepian Sungai Kelingi Erosi

LINGGAU POS ONLINE, KAYU ARA – Aktivitas penambang batu ilegal di aliran Sungai Kelingi makin marak, tepatnya dari Kelurahan Kayu Ara hingga Kelurahan Batu Urip. Padahal kondisi Sungai Kelingi saat ini sudah sangat memprihatinkan, khususnya di tepian sungai sudah mengalami erosi.

Hal ini diketahui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lubuklinggau, namun belum ada penertiban sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi penambang liar. Penambang liar ini mayoritas dilakukan warga setempat dengan membentuk kelompok, dengan menggunakan alat tradisional yaitu linggis, dan ban karet untuk menyusuri Sungai Kelingi.

Berdasarkan pantauan wartawan, segala jenis batu diambil baik dari ukuran kecil, sedang, dan besar. Pembeli batu ini langsung datang ke penambang dengan harga jual bervariasi. Untuk ukuran kecil dijual Rp 120 ribu per kubik, dan besar Rp 225 ribu per kubik.

Penambang mendapatkan Rp 200 ribu per kubik, untuk mengumpulkan satu kubik batu membutuhkan tenaga empat orang. Yaitu dua orang memungut dari sungai dan dua orang lagi dibawa ke penampungan. Rata-rata satu orang mendapatkan Rp 50 ribu per hari.

Diakui Kepala DLH Kota Lubuklinggau, Herdawan maraknya penambang liar ini sudah diketahuinya. Bahkan dampaknya sudah mulai terasa, diantaranya tepian Sungai Kelingi sudah mengalami erosi, dan keruh.

”Sudah banyak pohon yang tumbang, namun susah untuk menertibkan aktivitas tambang ini mengingat ini satu-satu mata pencarian warga,” tegas Herdawan.

Menurut Herdawan, memang penambang menggunakan alat tradisional namun dampaknya sangat fatal bagi ekosistem di dalamnya.(20)

Komentar

Rekomendasi Berita