oleh

Tidak Ada Hujan Buatan, yang Ada Tehnik Modifikasi Cuaca

LINGGAU POS ONLINE – Beberapa wilayah di Sumatera Selatan, termasuk Musi Rawas, Lubuklinggau dan Musi Rawas Utara (Muratara), Senin (23/9/2019) malam dan Selasa (24/9/2019) mendapatkan hujan dengan itentitas yang berbeda-beda.

Hujan yang terjadi di beberapa wilayah ini, perlu dipahami bukannya hujan buatan. Karena manusia tidak bisa membuat hujan. Namun menggunakan teknologi, manusia bisa membuat modifikasi cuaca atau yang disebut Teknik Modifikasi Cuaca (TMC).

Seperti dijelaskan Kasi Data dan Informasi BMKG Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Bambang Beni Setiaji, bahwa TMC ini dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Ini istilah yang dipakai dahulu, saat BPPT modifikasi cuaca pertama kali dimanfaatkan dengan nama hujan buatan, semakin ke sini trend terminologi itu menjadi TMC,” katanya, sambil menjelaskan bahwa semua hujan itu adalah alami, tidak ada yang buatan.

TMC pun bisa dilakukan, jika sebelumnya sudah ada awan hujan. “Modifikasi awan untuk menghasilkan hujan dilakukan pada siang hingga menjelang sore, awan hujan biasanya umurnya ke fase matang itu sekitar 1 jam,” jelasnya.

Kemudian, secara verifikasi  hujan yang jatuh bisa langsung dirasakan lebih kurang 1 jam setelah seeding/penyemaian.  “Jika ada yang klaim hujan yang turun pada malam hari atau malam sampai pagi itu hasil dari modifikasi cuaca, masyarakat bisa menilai sendiri,” ia menambahkan.

Bambang yang juga Dosen UIN Raden Fatah Palembang ini, juga menegaskan bahwa hanya Allah yang bisa menurunkan hujan. Ia pun menyitir beberapa ayat di dalam Al-Quran mengenai hujan.

“Berikut ciptaan dan rahasia Allah yang di antaranya Hujan dan Bagaimana BMKG memanfaatkan pergerakan Angin untuk memprakirakan hujan,” katanya.

Sesuai dengan Surah Luqman, Ayat 34 yang artinya,” Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kemudian ditambahkan, berdasarkan Surah Fatir ayat  9, isinya “Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.”

Selain itu, ditambahkannya pada 2017 lalu, BMKG Sumsel dan Universitas Sriwijaya, telah melakukan penelitian terkait efektifitas TMC dengan membandingkan awan yang disemai dan tidak disemai pada saat kondisi udara labil yakni pada musim peralihan hingga musim hujan.

Awan yang diteliti adalah awan konvektif yang disemai dan yang tidak disemai dengan kondisi pertumbuhan sama, kondisi labilitas sama dan dalam luasan tertentu dengan rentang waktu sesuai waktu hidup (life time) cumulonimbus yg lebih kurang satu jam dari fase/stage tumbuh/building, matang/mature dan dissipating(menghilang). Komputansi menggunakan Koordinat Penyemaian yang di-overlay pada citra Radar Cuaca dan TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Hasilnya TMC cukup baik dilakukan pada saat musim peralihan hingga musim hujan.

Dari hasil penelitian, didapatkan data,  verifikasi awan konvektif yang disemai hanya layak menggunakan waktu 1 Jam setelah proses tersebut sesuai stage cumulonimbus. Awan yang diseeding dan cukup efektif hanya pada awan konvektif yg bersifat local, awan hujan yang terjadi pada malam hari yang bersifat regional atau meso scale (skala meso ) tidak mengalami penyemaian tidak disebut sebagi hasil penyemaian.(*)

Laporan Endang Kusmadi

Rekomendasi Berita