oleh

Tertua dan Pusat Syiar Agama Islam

Islam dan Masjid Bersejarah di Pulau Sumatera (8)

Rabu(23/5) sudah dua masjid kuno yang tidak terlepas dari kejayaan kerajaan Islam di Sumatera Utara (Sumut), yaitu Masjid As-Syakirin, Kampung Deli Tua, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang dan Masjid Raya Al Osmani terletak, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan. Selanjutnya akan ada tiga masjid kuno yang tidak kalah penting untuk diketahui umat Muslim, yakni Masjid Raya Sultan Basyaruddin, Masjid Raya Nur Addin dan Masjid Jamik Ismailiyah.

Dirangkum Oleh Solihin

Masjid Raya Sultan Basyaruddin atau dikenal dengan sebutan Masjid Raya Rantau Panjang terletak di Desa Rantau Panjang Kecamatan Pantai Labu. Bangun masjid layak menjadi situs sejarah, dibangun pada tahun 1854 M oleh Sultan Serdang ke IV, Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah yang merupakan kewaziran Sultan Aceh.

Selanjutnya Masjid Raya Tebing Tinggi yang kini sudah berganti nama menjadi Masjid Nur Addin adalah masjid tertua di Kota Tebingtinggi. Masjid ini terletak di jantung kota, tepatnya di Jalan Suprapto Kota Tebing Tinggi. Masjid Raya Nur Addin ini sehari-hari dipakai untuk beribadah umat muslim di Kota Tebing Tinggi dan kegiatan syiar-syiar agama Islam.

Masjid Raya ini berdiri sekitar 1861 yang didirikan Raja Negeri Padang (Tebing Tinggi) Tengku Haji Muhammad Nurdin dan juga sekaligus beliaulah sang pendiri Kota Tebing Tinggi. Beliau meninggal pada 1914 dan lahir di tanah Tebing Tinggi yang dulunya kerajaan Padang sekitar tahun 1836.

Kemudian Masjid Jami’ Ismailiyah terletak di Desa Beringin, Kecamatan Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sebelah utara masjid berbatasan dengan Sungai Bedagai dan rumah penduduk, sebelah timur dengan jalan besar, sebelah selatan dengan kebun rakyat serta bekas kerajaan Negeri Bedagai, dan sebelah barat dengan kebun rakyat. Adapun bekas kerajaan yang masih terlihat adalah struktur bata merah serta tanah lapang yang luas. Masjid yang merupakan masjid kerajaan ini berdiri di atas lantai bata yang ditata rapi, luas tanah sekitar 900m2, dan dibangun dua lantai dengan pagar tembok dan besi di sekelilingnya.

Kepemilikan dan pengelolaan masjid diatur oleh keturunan Sultan Bedagai, di mana sampai saat ini fisik dan fungsinya masih terjaga. Menurut ahli waris Sultan Bedagai, masjid dibangun pada tahun 1882. Pemugaran dilakukan pada tahun 1937, yakni penggantian atap yang semula dari genteng menjadi seng, meninggikan posisinya melebihi bangunan istana yang masih berdiri pada waktu itu, dan kubahnya diganti dengan yang lebih besar.

Kemudian pada tahun 1982 dilakukan pemugaran kedua dengan mengganti lantai bagian dalam masjid dari tegel menjadi keramik dan dilakukan pembangunan menara. Bentuk asli masjid masih terlihat pada pagar tembok yang bergelombang di bagian atasnya dan memiliki dua tiang sebagai penyangga atap. Bangunan masjid ini terdiri dari serambi, ruang utama, menara, tempat wudhu, dan makam. (Bersambung)

Rekomendasi Berita