oleh

Tersangka Baru Kasus Match Fixing

JAKARTA – Satgas Antimafia bola besutan Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat ini sedang terus berupaya untuk membongkar kasus Match Fixing di Liga 3 sepakbola tanah air. Hal tersebut dibuktikan dengan kembalinya Polri mendapatkan laporan baru terkait kasus serupa dengan terlapor berinisial VW alias Vigit Waluyo.

Menanggapi hal itu, Kepala Biro Penerangan Masyrakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, dalam laporan terbaru terkait match fixing kali ini terlapornya sudah mengerucut dari kasus yang sebelumnya telah ditangani oleh pihaknya.

“Laporan baru saat ini dasar hukumnya sudah karena, sudah diterbitkan LP dengan terlapor berinial VW. Jadi, untuk kasus ini tim punya hak untuk memeriksa dia. Adapun terlapor VW ini tidak sendiri, dia bersama satu tersangka kasus sebelumnya atasnama Mbah putih,” kata Dedi kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Senin (7/1).

Lanjut Dedi menjelaskan, laporan baru pada kasus kedua ini diduga melakukan match fixing di laga-laga yang diikuti oleh klub sepakbola PS Mojokerto, dengan modus agar setiap laga dapat dimenangkan oleh klub tersebut, dalam rangka bisa promosi dari Liga 3 ke Liga 2.

“Dari hasil laporan keuangan keduanya telah menerima uang, sebesar Rp 115 juta. Adapun saat ini selain sudah menetapkan tersangka kepada Mbah Putih, tim pun besar kemungkinan akan menetapkan juga saudara VW jika, seluruh alat bukti sudah ada ditangan penyidik,” jelas Dedi.

Namun demikian, Dedi mengakui, untuk mengambil langkah proses hukum selanjutnya pihaknya tetap harus melakukan sejumlah rangkaian pemeriksaan dahulu terhadap VW dengan alat bukti yang sudah dimiliki penyidik baik keterangan mbah putih dan saksi lainnya.

“Saat ini kita masih menunggu izin dari Dirjen PAS untuk memeriksaanya, dari kemarin kita sudah berkoordinasi guna menentukan tempat dan waktu pemeriksaan VW. Tapi, untuk saat ini status VW masih terlapor dari laporan ini. Dan untuk kasus ini sudah berstatus penyidikan,” terang Dedi.

Dedi menambahkan, saat ini tim Satgas Antimafia bola juga telah menerima sejumlah pengaduan dari masyarakat terkait kasus match fixing di liga sepakbola lainnya, dan sampai hari ini sudah ada 278 laporan diantaranya, 60 laporan yang masuk itu dinilai bisa di investigasi.

“Laporan yang masuk itu macem-macem, ada dari liga 3 sampai Liga satu juga. Dan saat ini sedang didalami oleh Satgas Antimafia bola,” ucap Dedi.

Terpisah, pengamat sepakbola Anton Sanjoyo mengungkapkan, jika kasus match fixing di sepak bola Indonesia itu memang sudah lama ada dan akut. Bahkan, sejak jaman presiden Soekarno dan yang mainpun orang-orang di dalami PSSI sendiri.

Dengan demikian, Anton berharap, niatan untuk membongkar jaringan dari bandit-bandit kasus ini dapat disertai, ketulusan guna benar-benar membersihkan kotoran yang sudah sangat kotor sekarang ini di PSSI dari para bandit tersebut.

“Saya kira langkah pembentukan Satgas Antimafia bola bagus, dan jadi awal untuk bersih-bersih PSSI. Dan semoga niat Satgas ini membongkar bandit-bandit mafia bola ini serius, dan selesai secara tuntas jangan cuma sepotong-sepotong.

“Karena kasus ini pernah dibongkar gede-gedean juga dulu soal wasit ternyata, tidak tuntas. Dan kasus itu setidaknya, jadi gambaran agar dalam kasus sekarang bisa lebih serius lagi untuk dibongkar,” tandas Anton. (mhf/fin)

Rekomendasi Berita