oleh

Terpaksa Satu Puskesmas Satu Dokter

LINGGAU POS ONLINE – Tak hanya tenaga pendidik (guru). Kota Lubuklinggau juga masih kekurangan dokter. Khususnya untuk mereka yang bertugas di puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan (Faskes) Pertama yang dituju pasien selain dokter keluarga.

Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau, Cikwi, Minggu (25/8). Idealnya kata dia, setiap puskesmas itu ada dua dokter. Satu dokter umum satu lagi dokter gigi.

“Namun memang masih ada kendala,” imbuhnya.

Sementara Sekretaris Dinkes Kota Lubuklinggau, Deasy Novia, Minggu (25/8) mengungkapkan terpaksa masih ada puskesmas di Kota Lubuklinggau yang hanya punya satu dokter.

“Ada sebagian Puskesmas masih satu dokter, namun saat ini kami terbantu dengan adanya program dokter internship,” kata Deasy Novia.

Dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada itu, Puskesmas harus aktif melayani poli umum, poli lanjut usia (lansia), poli kesehatan ibu dan anak dan poli gigi.

Menurut Deasy, untuk mengatasi kekurangan dokter, sembilan puskesmas Kota Lubuklinggau sudah masuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sehingga jika kekurangan tenaga bisa merekrut dokter kontrak.

Ditambahkan Deasy Novia, saat ini Kota Lubuklinggau bukan hanya kekurangan dokter umum. Tapi juga kekurangan tenaga medis, baik apoteker, rekam medik, dan ahli gizi dan laboratorium. Sementara untuk bidan dan perawat over.

“Kekurangan SDM dokter, apoteker, rekam medik dan ahli gizi ini sudah kami sampaikan ke Badan Kepegawaian Pengembangan dan SDM (BKPSDM) Kota Lubuklinggau. Jika sewaktu-waktu memang ada perekrutan CPNS tenaga medis, kami berharap bisa diprioritaskan,” harap Deasy Novia.

Sementara Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Lubuklinggau, dr Dwiyana Sulistyaningrum, saat ini ada 112 anggota IDI aktif. Namun, tidak seluruhnya tugas di Kota Lubuklinggau. Ada yang di Musi Rawas, Muratara dan Empat Lawang. Bahkan ada yang tugas di Kabupaten Rejang Lebong.

“Kalau acuan BPJS Kesehatan satu dokter melayani 5.000. Sedangkan peserta BPJS di setiap puskesmas sudah bertambah. Sekarang sudah mencapai 18.000 peserta. Kalau melihat kondisi itu, artinya setiap puskesmas perlu empat dokter umum,” tutur Kepala Puskesmas Citra Medika ini.

Ia membenarkan, di Citra Medika pun kekurangan dokter PNS. Hanya saja, ia terbantu dengan adanya enam dokter internship.

“Kami hanya ada dua dokter PNS. Selebihnya, ada enam orang dokter internship. Memang meski hanya 1 tahun tugas internship, mereka sangat membantu, agar pelayanan kesehatan tetap lancar,” imbuhnya.

Di Lubuklinggau saja, kata Dwiyana ada 42 dokter internship yang sedang bertugas di RS Siti Aisyah dan RS AR Bunda Lubuklinggau.

Tak hanya di Kota Lubuklinggau, 15 dokter internship juga bertugas membantu layanan kesehatan di Kabupaten Muratara sejak awal November 2018.

Internsip adalah Proses pemantapan mutu profesi dokter untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komprehensif, mandiri.

Serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. (lik/nia)

Rekomendasi Berita