oleh

Terompet Bisa Tularkan Difteri

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, terompet berpotensi menularkan penyakit difteri. Ini dibenarkan Direktur Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) Lubuklinggau dr H Mast Idris Utsman E, sabtu (30/12).

“Penyakit ini dikatakan dapat ditularkan melalui percikan ludah bahkan hembusan napas. Difteri itu infeksi saluran pernafasan yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diphtheriae,” kata dr Mast Idris.

Ia mengatakan, dalam hal ini penularan difteri tersebut melalui perantara. Yaitu percikan ludah (peniup terompet).
Penularan difteri berpotensi terjadi jika satu terompet ditiup lebih dari satu peniup, kata Jane.

“Itu jelas, misalnya, kita di bagian yang ditiup itu kalau kita tukar-tukar (me)niupnya, satu terompet ditiup beberapa orang, misalnya, itu, kan, menularkan,” terangnya.

Lebih jauh, Mast Idris menjelaskan, sebenarnya difteri bisa menular tanpa harus lewat terompet. Difteri kata dia gampang menular bahkan lewat napas.

“Penularan difteri itu enggak perlu bantuan terompet kok, dia dengan mudah menular. Kita buka mulut saja, enggak usah niup, enggak usah apa kita sudah nular. Kita (ber)napas aja dia keluar lewat rongga hidung. Enggak perlu bantuan terompet. Bahwa kemudian dengan meniup terompet menjadi lebih mudah, itu kan harus diteliti donk,” tegasnya.

Ia mengatakan, penambahan kasus difteri saat ini mengalami penurunan. Jumlah kasusnya saat ini 910 total se-Indonesia sejak bulan Januari 2017. Kalau dilihat penambahan kasusnya, sampai dengan tanggal 21 Desember 2017, di atas 10 kasus per hari.

“Sedangkan mulai tanggal 22 (Desember) sampai sekarang, penambahannya tuh sedikit, di bawah 5 (kasus). Tiga kasus, empat kasus, hariannya seperti itu. Jadi, kan, jauh menurun,” terangnya.

Pada pergantian tahun Masehi, meniup terompet menjadi salah satu tradisi di sebagian besar wilayah di dunia.
Diketahui, difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium Diphteriae. Bakteri ini pada manusia umumnya menyerang saluran napas atas, menyebabkan gejala antara lain demam dan sakit tenggorokan.

Pada awal Difteri kerap, sering dianggap ringan karena gejalanya seperti amandel dan radang tenggorokan. Disertai demam suhu tubuh 38 derajat celcius, ada selaput putih di tenggorokan , pembengkakan kelenjar getah bening , suara serak dan kadang disertai sesak nafas.

Pencegahannya, bisa dilakukan dengan pemberian imunisasi DPT, DT atau TD untuk anak usia 1-19 tahun, hindari kontak dengan penderita, konsumsi makanan bergizi, rutin memeriksa kesehatan, dan jika sudah terkena segera ke dokter agat mendapat suntikan antitoksin. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita