oleh

Tergantung Kepala Sekolah

SEMENTARA di Kota Lubuklinggau ada 500 honorer SMA/SMK yang mengabdi saat ini. Namun, sistem penggajian semuanya tidak di-back up oleh dana APBD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

“SK tugas honorer SMA di Lubuklinggau itu diterbitkan Kepala Sekolah. Bukan SK Walikota. Jadi gajinya tergantung kepala sekolah. Sebagian besar SMA/SMK mengandalkan iuran dari komite sekolah. Kan memang sudah dirapatkan sejak awal tahun ajaran, masing-masing SMA/SMK bisa menarik iuran, sesuai kesepakatan hasil rapat komite,” terang Ketua PGRI Kota Lubuklinggau, Erwin Susanto, Selasa (14/11).

Sejauh ini, kata dia, gaji guru honorer SMA rata-rata berkisar Rp 30 ribu per jam.

“Di SMAN 4 Lubuklinggau saja ada 15 honorer. Memang bukan berarti kekurangan guru. Per bulannya, kami menggelontorkan dana untuk gaji honorer berkisar Rp 30 jutaan. Penarikan SPP per siswa Rp 64 ribu per bulan,” terangnya.
Sebagian besar guru honorer SMA/SMK ini mengabdi maksimal 10 tahun.

“Kalau evaluasinya per tahun. Seandainya tidak bagus kinerjanya, tidak disiplin, ya tidak diperpanjang SK penugasannya. Ada juga yang lambat laun mundur sendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, guru honorer SMK Negeri 3 Lubuklinggau, Heryati Destriani mengaku tidak mengalami kendala tentang gajian.

“Kamarin sudah gajian kami, memang sering terlambat gajiannya. Sebulan gaji honorer hanya Rp 300 ribu. Dicairkan per triwulan,”tuturnya.

Destri sendiri mengaku sudah setahun menjadi guru Bimbingan Konseling di SMK Negeri 3 Lubuklinggau.

“Kita di sana mengabdi, karena kalau melihat gajinya tentu saja sangat kecil, ditambah lagi tidak setiap bulan. Tapi karena ingin mencerdaskan anak bangsa, sehingga menerima apapun yang diberikan kepada kita,” tutupnya. (05/12)

Komentar

Rekomendasi Berita