oleh

Terdakwa Pemortal Merasa Lahan Miliknya

LINGGAU POS ONLINE, SIDOREJO – Pengadilan Negeri (PN) Kota Lubuklinggau kembali melaksanakan sidang dengan terdakwa Holudin (51).

Warga Desa Rantau Serik, Kecamatan Tiang Pungpung Kepungut (TPK), Kabupaten Musi Rawas ini diduga melakukan pemortalan tanah diduga miliknya. Yang sudah digusur PT Gunung Sawit Lestari (GSL).

Persidangan kemarin (27/3) dipimpin Ketua Majelis Hakim, Hendri Agustian dan Hakim Anggota, Tatap Situngkir dan Syareza Papelma, dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Husni.

Agenda sidang mendengarkan keterangan terdakwa. Sidang dimulai sekitar pukul 15.30 WIB di ruang Sidang Cakra, Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Selasa (27/3).

Terdakwa Holudin saat memberi keterangan di depan persidangan menjelaskan tanah miliknya belum menerima ganti rugi dari perusahaan, dirinya mengaku hingga tanah digusur sampai sekarang belum menerima kompensasi.

“Saya berani bersumpah, saya memang belum mendapatkan ganti rugi, jelas saya akan portal tanah milik saya,” tegas Holudin.

Sementara itu, Penasihat Hukum (PH) Terdakwa, Parlin dikonfirmasi menyampaikan pemortalan terjadi disebabkan warga ingin mempertanyakan penyelesaian ganti rugi lahan miliknya dengan PT GSL.

“Padahal pada 1 Mei 2014 sudah ada kesepakatan disaksikan oleh mantan Bupati Musi Rawas, H Ridwan Mukti menyatakan proses ganti rugi akan dilakukan secepatnya, namun hingga sekarang belum diselesaikan. Sehingga warga melalui terdakwa untuk melakukan perlawanan dengan PT GSL atas tindak pidana,” jelasnya.

Lebih lanjut, Parlin menyampaikan hingga terhitung hari ini, dirinya bersama kuasa hukum lainnya mengikuti persidangan untuk mendengarkan keterangan terdakwa atas laporan PT GSL.

“Lahan beberapa warga yang belum diselesaikan sekitar 100 Hektare (Ha), ini bentuk kriminalisasi dari PT GSL terhadap beberapa warga termasuk Holudin. Mereka dituduh melakukan provokasi warga untuk memortal. Padahal lahan tersebut milik pribadi yang sudah digusur PT GSL,” ulasnya.

Sekedar diketahui berawal, tidak pidana terjadi 26 Juli 2016, terdakwa bersama warga melakukan pemortalan terhadap lahan miliknya, yang digusur oleh PT GSL.

Akibat perbuatannya terdakwa diancam dengan pasal 107 Undang-Undang (UU) No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.(11)

Rekomendasi Berita