oleh

Tenaga Ground Handling Batik Air Tak Digaji

Kerja Sejak April 2017

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Sejak April-November 2017 ini, 23 karyawan ground handling Batik Air dan Wings Air belum terima gaji. Selain itu, mereka juga tidak didaftarkan oleh perusahaan penyalur, yakni PT Menara Angkasa Sejahtera (MAS) ke BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami kerja setiap hari. Mulai pukul 05.55 WIB bisa sampai 18.00 WIB lebih. Apalagi kalau pesawat delay. Tugas yang kami jalankan mulai dari menangani bagasi penumpang  juga menangani kargo pesawat,” jelas  seorang tenaga Ground Handling, GN kepada Linggau Pos, Sabtu (2/12).

Penyaluran kerja tenaga Ground Handling ini dilakukan PT MAS.  Sementara penggajian, disalurkan dari maskapai ke PT MAS, baru diserahkan kepada tenaga Ground Handling.

“Kami menangani koordinasi tiga maskapai. NAM Air, Wings Air dan Batik Air. Gaji dari NAM Air diberikan kepada kami melalui koordinator Ground Handling. Salah satu tugas beliau ini, ketika awal bulan mengumpulkan kami di ruangannya (Koordinator Ground Handling,red). Lalu nanti dia hitung duit yang dikasih PT MAS. Sekalian mengecek kehadiran kami, sesuai data absensi. Khusus gaji dari NAM Air itu Rp 700 ribu (pokok). Sementara untuk makan Rp 5.000 per hari. Kalau kami terlambat absen dari pukul 05.55 WIB dipotong Rp 5.000. Jadi kalau kami rajin, per bulan terima Rp 850 ribu gaji pokok dan uang makan,” papar GN.

Ketiadaan gaji dari Batik maupun Wings Air menurut GN, menjadi keluhan 23 tenaga Ground Handling ini. Namun mereka tidak berani melapor kepada siapapun.

“Kami tidak punya penghasilan lain, mbak. Hanya ini (Jadi  Ground Handling, red). Kalau kami lapor ke maskapai maupun ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) khawatir kena pecat. Lalu mau makan apa anak istri kami,” sebut pria tamatan SMA itu.

GN menyadari penghasilan Rp 850 ribu yang diterimanya, terkadang tak cukup untuk makan. Namun ia tetap bersyukur, sekalipun kadang merasa amat sakit dalam hatinya.

“Idealnya, kami kan sudah UMR ya mbak. Tapi ini tidak sama sekali. Slip gaji juga kami tidak pernah dapat. Kalau kerja dengan NAM Air itu sudah sejak awal NAM Air operasional. Pun dengan Batik maupun Wings Air. Tapi sampai kini tidak dapat gaji,” jelasnya.

Lebih menyedihkan lagi, lanjut GN ketika sakit, mereka tidak mendapatkan bantuan BPJS Kesehatan. Bahkan kalau misalkan kecelakaan sekalipun, tidak ada jaminan dari BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang dari kami tidak punya kesepakatan hitam di atas putih yang pernah kami tanda tangani. Makanya, kami tidak tahu juga harusnya terima gaji berapa dari PT MAS ini,” imbuhnya.

GN mengatakan, pihaknya sangat ingin melakukan aksi mogok kerja dan mengadu ke Disnaker tentang PT MAS maupun Batik dan Wings Air.

Karena mereka hanya tergantung pada satu pekerjaan. Sehingga kalau melapor, khawatir justru akan kehilangan mata pencaharian.

Fakta berbeda justru kami temui saat ke Bandara Silampari. Seorang tenaga ground handling, Bambang menyebut selama ini gaji dari PT MAS lancar-lancar saja.

“Saya tiga tahun kerja jadi ground handling. Tidak ada masalah tentang gaji,” sebutnya singkat.

Memang Bambang tak berani menyebut nominal gaji. Namun ia memastikan tidak ada masalah. (05/18)

Berita Terkait : Segera Laporkan Ke Disnaker

Komentar

Rekomendasi Berita