oleh

Temukan Tempat Ibadah Tanpa Izin

LINGGAU POS ONLINE, MANDI ANGIN – Pasca adanya informasi dan juga laporan dari masyarakat mengenai tempat ibadah yang tidak memiliki izin, bahkan akan dibangun secara permanen oleh PT London Sumatera (Lonsum), Ketua dan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama unsur Tripika Kecamatan Rawas Ilir terjun langsung ke lokasi tempat peribadatan tersebut. Tepatnya di Riam Indah Estate di Dusun IV Desa Mandi Angin Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara.

Kemarin (11/1) pukul 14.32, Kepala FKUB Kabupaten Muratara, Mohammad Ali, Kepala KUA , Irwan Sastro, Camat Rawas Ilir, Suharto, Kapolsek Bingin Teluk, Iptu Fajri Anbiyaa, Babinsa Koramil Bingin Teluk, Serka, Endang Permana, Perwakilan Kesbangpol, Samsudin dan Pjs Kades, Holidin Kodar tiba di rumah ibadah yang terletak di lingkungan areal perkantoran Riam Indah estate.

Kepala FKUB Kabupaten Muratara, Mohammad Ali mengungkapkan setelah mendapat informasi dan laporan dari masyarakat maupun dari pengurus KUA Kecamatan Rawas Ilir, kemarin ia bersama unsur Tripika, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Muratara langsung melihat kondisi rumah tempat ibadah bagi para karyawan PT Lonsum, tepatnya di areal Riam Indah Estate yang terletak di Dusun IV Desa Mandi Angin Kecamatan Rawas Ilir.

“Sudah kita lihat kebenaran informasi tersebut, bahkan keterangan langsung kepada perwakilan jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI), yang jelas mengatakan adanya kegiatan bahkan sudah berlangsung sejak tahun 2015, tanpa ada izin yang masuk ke kita,” kata Ali.

Dirinya menegaskan, selaku lembaga yang ditugaskan untuk menjaga kerukunan umat beragama, tentunya bertugas bertanggung jawab atas seluruh kegiatan peribadatan seluruh agama.

Begitu juga dalam hal pendirian rumah atau tempat ibadah, sebagaimana mekanisme pendirian rumah ibadah, pengurus maupun perusahaan yang ingin mendirikan rumah ibadah yakni diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 Tahun 2006 dan No. 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dalam memelihara kerukunan umat beragama, Pemberdayaan FKUB dan Pendirian Rumah Ibadah.

“Adapun persyaratan administrasi yang harus dipenuhi yakni, susunan pengurus kelembagaan yang masih berlaku, proposal pendirian rumah ibadah, keterangan sah bukti kepemilikan atau status tanah untuk tempat pembangunan rumah ibadah,” jelasnya.

Selanjutnya yang paling utama, surat izin mulai dari pemerintah setempat baik kades, kecamatan, FKUB dan Kementrian Agama, serta daftar nama yang dibuktikan dengan KTP pengguna rumah ibadah atau jemaat, paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat, baik kades, lurah. Dukungan tertulis aspirasi masyarakat setempat paling sedikit 60 orang dengan melampirkan KTP.

Jadi, pasca peninjauan kemarin, selanjutnya FKUB akan mengirimkan surat kepada pendeta yang mengisi ibadah GBI dan manajemen PT Lonsum Riam Indah Estate.

Yang isinya untuk menghentikan kegiatan peribadatan di rumah ibadah yang saat ini belum ada izin pendiriannya. Sebelum pihak perusahaan dan pengurus melengkapi atau memenuhi persyaratan pendirian rumah ibadah tersebut.

“Kami tidak melarang untuk umat manapun melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka, hanya saja dalam hal pelaksanaannya harus di tempat yang sah, rumah tempat ibadah yang memiliki izin atas pendiriannya. jadi sebelum ada surat rekomendasi atau izin, silakan laksanakan di tempat ibadah yang lain yang ada izin, silakan pihak perusahaan mengakomodir para karyawannya untuk melakukan ibadah,”tegasnya.

Camat Rawas Ilir, Suharto mengatakan, pihaknya selaku pemerintah mengimbau kepada pihak perusahaan untuk mengikuti aturan dalam hal pembangunan tempat ibadah.

Mengenai pelaksanaan ibadah, silakan kepada pihak manajemen dan pengurus GBI untuk memenuhi ketentuan yang ada.

Ketua, Forum Pemuda Peduli Mandi Angin, Indrayani mengimbau agar pihak perusahaan mengikuti apa yang ada sebagaimana prosedur yang berlaku.

“Sebelum ada izinnya, jangan ada pembangunan tempat ibadah sebagaimana yang direncanakan oleh manajemen, dan bagi para jemaah untuk melakukan ibadah di tempat lain, kalau tempat ibadah di sini sudah ada izin silakan lakukan di tempat ini,” ingatnya.

Terpisah, salah seorang jemaat, Sabam Sinaga dan Berton saat pihak FKUB Kabupaten Muratara menanyakan, dirinya menjelaskan untuk para jemaat GBI Riam Indah Estate terdiri dari Kristen Katolik maupun Protestan.

“Untuk rumah tempat ibadah ini sudah berdiri sejak tahun 2015, tapi untuk jemaah sudah ada sejak tahun 2005 lalu di bukit, dengan gabungan baik Kristen Protestan maupun Katolik, maupun beberapa sekte,” jelasnya.

Lebih lanjut, dijelaskan, untuk jumlah jemaah sebanyak 36 Kepala Keluarga (KK) untuk jiwa, sebanyak 115 jiwa dari Lampung, Jawa, maupun Medan. Setiap ibadah diisi oleh pendeta dari Kota Lubuklinggau, pendeta Formina Simanjutak dan pendeta dari Palembang.

“Kami juga dalam menjalankan ibadah sudah mengajukan permohonan keamanan dari pemerintah desa, masa Kades Erwin, untuk selanjutnya kalau memang kami tidak bisa melakukan ibadah, tolong sampaikan kepada pimpinan kami. Dengan demikian mungkin perusahaan memberikan kebijakan untuk melakukan ibadah di tempat lain, apakah ke Lubuklinggau atau ke tempat ibadah lainnya,” harap dia. (07)

Komentar

Rekomendasi Berita