oleh

Temukan 1.232 Kasus TB Paru

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Sejak Januari hingga Agustus 2018, terdapat 313 Pasien Tuberkulosis (TB) Paru di Kabupaten Musi Rawas (Mura). Data itu tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mura.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinkes Kabupaten Mura, Hj Mifta Hulummi melalui Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Edwar Zuliyar, Minggu (16/9).

Menurutnya, potensi penderita TB Paru di Kabupaten Mura cukup tinggi. Tahun 2016 saja, Dinkes berhasil menemukan 422 kasus penderita TB Paru, sedangkan tahun 2017 naik jadi 497 kasus. Penderitanya usia produktif 15-54 tahun.

Nyaris di setiap kecamatan di Kabupaten Mura sebenarnya ada kasus TB Paru, tetapi ada yang sedikit dan ada yang banyak. Dan yang sering ditemukan, seperti di Puskesmas Nawangsari, L Sidoharjo, Muara Kelingi, Karya Sakti, Megang Sakti, Kelingi IV, Muara Lakitan.

Kemudian, Pian Raya, Cecar, Sungai Bunut, Ciptodadi, Muara Beliti, O Mangunharjo, Selangit, Air Beliti, Jaya Loka, Terawas, Sumber Harta, Muara Kati, RS Sobirin dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkoba Lubuklinggau.

Secara kumulatif , kata Edwar, TB Paru itu dihitung per jumlah penduduk, dapat diperkirakan di Mura ini perkiraannya ada 1.500 orang yang terkena TB Paru. Secara umum, TB ini penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat.

“Oleh karena itu, kita berusaha dan sebaik-baiknya untuk menjangkau semua orang tersembunyi TB ini. Intinya saya tekankan kepada masyarakat, bagaimana mencari semua TB yang ada di Mura,” jelas Edwar Zuliyar, Minggu (16/9).

Program Pemkab Mura yang saat ini, yaitu Temukan Obat Sampai Sembuh (TOSS). Artinya pemerintah harus mencari 1.500 orang terkena TB dalam setahunnya, sedangkan sekarang hanya mendapatkan ratusan saja.

Untuk itu, pihak Dinkes gencar sosialisasi baik itu masyarakat atau pun lainnya mencari gejala TB.

Gejalanya seperti batuk berdahak lebih dari tiga minggu, siapa pun masyarakat yang batuk dahaknya lebih dari tiga minggu dan diminta dahaknya untuk diperiksa.

Jika ditemukan dahak tersebut positif, maka diobati sampai sembuh selama waktu pengobatan 6 bulan. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan Dinkes sekarang yaitu melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan tim penggerak PKK, untuk tim PKK terlibat juga mencari kasus yang terkena TB Paru di Kabupaten Mura ini.

“Istilah namanya ketuk pintu, selanjutnya juga melalui Puskesmas dan melalui program Indonesia Sehat di sebuah desa dan Kecamatan. Nantinya, akan di data untuk mencari kasus yang terkena TB,” ucap Edwar sapaannya.

Edwar Zuliyar menghimbau, untuk stok obat di Mura dijamin aman berapa banyak masyarakat yang membutuhkan ada.

“Upaya pencarian penderita TB Paru di masyarakat tidak dilakukan dengan optimal, di mana rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dahak secara laboratorium,” imbau Edwar.

Direktur RSSA Lubuklinggau, dr H.Mast Idris Usman saat dikonfirmasi mengatakan, dengan data sebanyak itu cukup memprihatinkan memang penyakit TB Paru ini masih banyak ditemui di masyarakat. Maka dari itu, semua elemen baik itu masyarakat atau pun lainnya harus gotong royong mencari gejala TB ini.

Penyakit TB Paru ini semakin bertambah dikarenakan, masyarakat yang berobat tidak tuntas selama enam bulan. Padahal pemerintah sudah memberikan obat secara gratis.

Sebenarnya, kata Mast Idris, peluang penderita TBC bisa sembuh total mencapai 99 persen apabila pasien rutin minum obat setiap hari selama 6 bulan berturut-turut. Jika tidak dijalani dengan benar, kuman hanya melemah sesaat dan kemudian menguat sehingga mendapat kesan bahwa penyakitnya “kambuh”. Padahal sebenarnya penyakit itu tidak pernah sembuh sepenuhnya.

“Tidak jarang masyarakat beranggapan jika batuk berdahak mereka anggap keracunan, pada hal itu penyakit TB Paru. Saya harap tinggalkanlah kepercayaan itu, jika batuk selama satu bulan tidak berhenti maka periksalah ke Dokter,” imbau dr H Mast Idris Usman.

Ditambah dr H.Mast Idris Usman, mengenai rencana pembangunan gedung ruang TB Paru dengan menunjuk Rumah Sakit (RS) Siti Aisyah Lubuklinggau sebagai tempat penanganan terancam batal. Dikarenakan, bantuannya tidak dapat. (dlt)

Rekomendasi Berita