oleh

Tarup Hajatan Tutup Jalan

LINGGAU POS ONLINE, KENANGA – Tarup hajatan menutup jalan? Cukup mudah mendapatinya di Kota Lubuklinggau. Tak sedikit pengendara mengeluhkan kondisi ini. Bahkan baru-baru ini, Kapolres Lubuklinggau AKBP Sunandar melalui Kasat Lantas, AKP Sukiman membongkar tarup hajatan di Kelurahan Pasar Pemiri.

Bahkan, untuk resepsi kemarin (27/1) Jalan Kenanga 2, Kelurahan Pasar Satelit, Kecamatan Lubuklinggau Utara II sudah tertutupi tarup hajatan. Pengendara yang terjebak di jalan itu terpaksa harus berbalik arah, kesal dan melontarkan kata tak sedap.

Berdasarkan pantauan Linggau Pos, tarup beserta panggung sudah dipasang mulai 25-27 Januari 2018. Tamu undangan pun menyanyi diiringi lagu dangdut.

Tak ayal pengendara motor maupun pengemudi mobil yang hendak menuju Pasar Bukit Sulap, Pasar Pamiri, dan objek wisata Bukit Sulap terpaksa mencari jalan lain untuk ke lokasi yang mereka tujuh.

“Dari simpang empat lampu merah mau ke pasar tidak bisa lewat, ada tenda dan panggung yang membentang jalan, jadi motor dan mobil tidak bisa lewat, padahal ini jalan umum,” kata Dede (25) seorang pengendara.

Dede, berharap agar perangkat pemerintah setempat RT/RW dan Lurah untuk mengingatkan warga agar selanjutnya ada yang membuat hajatan maupun resepsi pernikahan dilarang menutupi jalan.

“Ini jalan umum, apalagi akses menuju ke pasar dan dekat dengan lampu merah, jadi jangan ditutup. Itukan sangat mengganggu warga lainnya, RT/RW dan lurah seharusnya memberikan teguran kepada yang bersangkutan, dan mengingat sebelum acara dimulai,” jelas Dede.

Hal senada dikatakan seorang warga Purdadi (26), menurutnya saat hendak ke wisata bukit Sulap dirinya harus berputar arah mencari jalan lain, ia merasa terganggu.

“Kesal tadi, pas lewat ada tenda dan panggung, seharusnya jangan ditutup semua agar warga lain bisa lewat,” keluh Purdadi.

Seorang warga lainnya, Dani (30) menyarankan setiap lurah bisa memprogramkan agar dibuat Gedung Serbaguna di masing-masing kelurahan di Kota Lubuklinggau.

“Memang kalau mau sewa hotel mahal. Solusinya buat gedung serbaguna setiap kelurahan. Agar bisa jadi tempat hajatan bagi warganya. Dengan biaya sewa yang terjangkau dan tak begitu mahal. Ini dilakukan warga (tarup hajatan tutup jalan, red) karena mereka tidak punya lahan atau gedung yang representatif terdekat di sekitar rumah. Satu-satunya ya jalan. Kalau mau sewa hotel mahal,” jelasnya.

Atau, kata Dani, setiap RT harus bisa memprogramkan ada lahan kosong luas yang dibeli bersama (patungan,red) di setiap RT.

“Jadi multi manfaat ini. Bisa untuk hajatan, olahraga, dan sebagainya. Intinya jadi pusat kegiatan masyarakat. Kalau ada yang begini, saya yakin tidak ada lagi tarup hajatan yang dengan begitu percaya dirinya menutupi jalan umum. Karena itu jelas mengganggu,” tegasnya.

Sementara itu, seorang keluarga hajatan saat dibincangi Agus (30) mengungkapkan, sebelumnya untuk memasang tarup tersebut sudah meminta izin kepada Lurah.

“Kami sudah meminta izin kepada pemerintah setempat,
untuk hajatan ini, dari sebelum mulai hajatan,” ungkapnya.(20/01)

Komentar

Rekomendasi Berita