oleh

Targetkan Stunting Menurun

“Pepatah banyak anak banyak rezeki saya setuju, asalkan terurus dan terpenuhi kebutuhannya”
Ketua TP PKK Muratara Lia Mustika Syarif

LINGGAU POS ONLINE – Ketua TP PKK Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Lia Mustika Syarif inginkan jumlah stunting dan gizi buruk pada 2019 mengalami penurunan.

Hal tersebut disampaikan dalam pimpin Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Dinkes Kabupaten Muratara, di Op Room Setda Muratara, Jumat (11/7).

Hadir dalam FGD perwakilan Dinkes Provinsi Sumsel, Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Yuliana Darlis, didampingi Andi Susanto dan Rini Oktarina, serta Kepala Dinkes Muratara, Marlinda Sari.

“Jangan angka jadi drop, tapi jadikan motivasi atau penyemangat untuk mengubah menjadi lebih baik,” kata istri orang nomor satu di “Bumi Beselang Serundingan” ini.

Lia Mustika Syarif mengatakan, sebagaimana jumlah angkat kasus gizi buruk, kurus dan stunting di Kabupaten Muratara di 2019, ada 86 kasus. Sehingga diharapkan jumlah tersebut menurun bahkan nol walaupun itu mustahil.

“Tapi tidak ada yang tidak mungkin asalkan serius dilaksanakan,” tegasnya.

Melalui program mengentaskan masalah Stunting, mulai pemberian makanan bergizi tambahan, sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dan peningkatan peran posyandu, ia berharap stuting bisa diatasi.

“Adanya pemahaman pemerintah desa, kalau Posyandu tanggung jawab Puskesmas itu salah. Karena Posyandu tanggung jawab Kepala Desa (Kades) dalam hal ini ibu Kades selaku Ketua Kader Posyandu. Puskesmas hanya pendampingan,” kata Lia Syarif.

Menurut Lia Mustika, dalam hal layanan ke masyarakat, setiap Puskesmas memiliki satu ambulance, bahkan sekarang setiap desa ada ambulance khusus untuk pelayanan kesehatan.

“Petugas Puskesmas bisa melakukan pelayanan kesehatan dengan pola jemput bola, atau mendatangi ke rumah pasien langsung,” sebutnya.

Lia Syarif juga menambahkan, dalam mengurangi stunting, adanya pemberian pemahaman akan program Keluarga Berencana (KB).

Petuah orang lama, banyak anak banyak rezeki, walaupun bertentangan dengan program Keluarga Berencana (KB).

“Pepatah banyak anak banyak rezeki saya setuju, asalkan terurus dan terpenuhi kebutuhannya. Lebih bagus lagi ikut program KB, cukup dua anak, agat anak-anak tumbuh sehat dan berkualitas,” kata Lia Mustika Syarif.

Lia Syarif juga menegaskan, tidak mau jumlah AKI-AKB ada peningkatan, bahkan walaupun ada AKB-AKI.

“Saya tidak mau tidak dilaporkan, memang Kabupaten Muratara, rendah dalam kesehatan, tapi itu menjadi memacu untuk berubah menjadi baik,” kata perempuan yang juga bidan ini.

Kepala Dinkes Kabupaten Muratara, Marlinda menjelaskan dalam menentukan penderita stunting, terlebih dahulu harus satu pemahaman dulu, sebelum turun kelapangan. Jadi jelas mana yang masuk kategori stunting, sehingga data yang didapatkan sesuai dengan semestinya.

“Untuk kasus stunting atau AKB, AKI harus dilaporkan, sakit atau meninggal, baik di Polindes, Puskesmas maupun di RSUD. Sebagai instruksi Ibu Ketua PKK, Jangan ada permasalahan gizi di lapangan yang ditutup-tutupi,” kata Marlinda.

Sementara itu, Yudi, salah petugas ahli gizi Perwakilan Puskesmas Rupit, yang menaungi 19 Posyandu dari 16 Desa, 1 kelurahan, menjelaskan kegiatan Posyandu sasarannya terlalu banyak.

“100 hingga 200 sasaran bayi, sangat banyak dibandingkan jumlah petugas. Ditambahkan terkadang kecakapan kader yang kurang,” katanya.

Menurutnya, Posyandu yang punya desa, tapi tidak didukung dengan baik oleh Kades, terutama Kader Posyandu masing-masing.

“Kami harapkan adanya penegasan dari Pemerintah daerah, dalam hal ini dinas terkait agar penyaluran anggaran ke Posyandu dipenuhi untuk pemenuhan fasilitas dan penambahan kader Posyandu,” harapnya. (fji)

Rekomendasi Berita