oleh

Tak Tega Lihat Anak-anak Buta Huruf

Kisah Sarmiyatun, Guru Honorer SD Terpencil

Perjuangan Sarmiyatun patut jadi cerminan bagi insan pendidikan masa kini. Ibu lima anak itu, tak mementingkan materi dalam pengabdiannya. Ketekunannya dalam mengajar, prioritas untuk membebaskan anak-anak dari buta huruf.

Laporan Daulat, Musi Rawas

USAI upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018, kami sengaja meminta bantuan Ketua PGRI Musi Rawas (Mura), H Hermansyah. Untuk menunjukkan guru-guru yang dedikasinya tinggi, namun tempat pengabdiannya cukup jauh dari jangkauan (terpencil).

Saat itulah, H Hermansyah mengajak Sarmiyatun untuk berbincang. Sebelum memulai wawancara, kami bisa melihat bagaimana semangat Sarmiyatun. Sekalipun rambutnya tampak telah memutih, nada bicaranya tetap menggebu-gebu.

“Tahun 1987 saya bertemu Mas Rusdi. Dia dari Desa Lubuk Pauh, Kecamatan BTS Ulu. Lalu kami menikah di Desa Panglero, Kecamatan Muara Lakitan. Sejak saat itu, kami tinggal di Panglero,” tutur Surmiyatun.

Kalimat demi kalimat membuka perbincangan kami dengan Sarmiyatun, sosok guru daerah terpencil, yang pada Hardiknas, kemarin mendapat dana bantuan operasional dari Pemkab Mura.

Perbincangan kami dengan Sarmiyatun terjadi di depan Gedung Auditorium Pemkab Mura.

Awal pengabdian Sarmiyatun dilatarbelakangi minimnya pengetahuan anak-anak dalam membaca.

“Kebanyakan anak-anak di sana buta huruf atau tidak bisa membaca sama sekali. Saya prihatin dengan itu,” jelas ibu yang ternyata alumni salah satu SMA di Provinsi Jawa Tengah itu.

Kemudian tahun 1996, Sarmiyun ditunjuk oleh warga sekitar untuk menjadi guru, untuk mengajar anak-anak di desa tersebut, dengan mendirikan sekolah semi permanen terbuat dari papan, yang berukuran 4×6 meter. Kala itu, murid Sarmiyatun hanya lima orang.

Setelah tahun 2004 masuklah PT Barito dan PT Pertamina ke Desa Panglero. Perusahaan-perusahaan ini memberikan bantuan untuk membangun secara permanen SDN Panglero. Kini sekolah tersebut memiliki lima lokal belajar.

“Pada tahun 2006 pembangunan SD tersebut selesai dan baru bisa ditempati. Dan guru pun ada penambahan, dari Pemkab Mura yang berjumlah enam orang. Tiga orang PNS (Kepala Sekolah dan dua Guru Garis Depan) ditambah tiga orang honorer,” tutur ibu lima anak tersebut.

Lebih lanjut Sarmiyatun menjelaskan, SD tempat yang ia mengajar jauh dari pusat perkotaan. Untuk ke SDN Panglero dari Kota Lubuklinggau membutuhkan waktu sekitar 3 jam.

“Itu pun jalannya licin dan tanah merah. Kalau dari Lubuklinggau ke SP9 BTS Ulu bisa ditempuh dengan mobil. Tapi kalau dari SP9 ke Desa Panglero, jalannya rusak. Kalau sedang tidak hujan butuh waktu 1 jam sampai ke Desa Panglero,” imbuhnya.

Meski jauh dari jangkauan, Sarmiyatun mengaku bangga bisa mengabdi di SDN Panglero. Saat ini ia mengajar murid kelas 2 SD yang berjumlah 19 orang. Karena guru kelas, ia mengajar semua pelajaran, baik Bahasa Indonesia, Matematika, Budaya, dan lainnya.

Meski beban tugasnya berat, namun Sarmiyatun mengaku tak pernah menggerutu meski hanya digaji Rp 300 ribu per bulannya.

“Saya ikhlas. Ini demi anak-anak. Jangan sampai mereka putus sekolah,” harap ibu berjilbab cokelat itu.

Untuk membantu suami dan menghidupi anak-anaknya, Sarmiyatun ikut menyadap karet. Kerja kerasnya itu tergambar dari guratan wajah Sarmiyatun.

“Kalau mengandalkan gaji, maka saya tidak bisa makan bersama keluarga, untuk itu saya mencari penghasilan lain selain mengajar. Karena kalau sudah mempunyai jiwa guru, itu tidak memperhitungkan gaji. Yang diutamakan bagaimana menjadikan anak-anak menjadi pintar,” ungkapnya.

Dengan adanya dana bantuan operasional dari Pemkab Mura sebesar Rp 1.020.000 per bulan, menurut Sarmiyatun itu berkah untuknya.

“Ini berkah bagi saya dan teman-teman. Karena selama ini yang diterima Rp 300.000,” jelasnya.(*)

Rekomendasi Berita