oleh

Tak Puas dengan Layanan Dua Istri, Cabuli Pelajar SMP

LINGGAUPOS.CO.ID– Terdakwa Septian Arif Budiyanto (31) bertele-tele dan tidak jujur dalam memberikan keterangan pada sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Rabu (21/4).

Sidang secara tertutup ini dipimpin Ketua Majelis Hakim Ferdinand, didampingi Hakim Anggota Verdian Martin dan Ambarita dengan Panitera Pengganti (PP) Ahmad Irfan. Karena masih Pandemi Covid-19 sidang diselenggarakan via ZooM Meeting dan terdakwa berada di Lapas Klas IIA Lubuklinggau didampingi Penasehat Hukum Riki, SH.

Tersangka yang merupakan warga Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Mura ini disidangkan karena mencabuli pelajar SMP inisial JM (14).

Dalam kesempatan itu Hakim Ferdinand yang membuka sidang langsung menanyakan kepada terdakwa, di depan hakim terdakwa sebelumnya telah membenarkan saksi-saksi yang dihadirkan sebelumnya, dan ada yang berlebihan.

“Saya berkenalan dengan korban lewat aplikasi Facebook (FB) Tahun 2020. Saya ajak korban berteman, dan akhirnya saya menyapa melalui mesengger dengan kata P. Lalu korban balas ini siapa, orang mana dengan bahasa Indonesia, karena sama- sama orang Jawa cetingan lewat bahasa Jawa. Korban sempat mengaku warga Lubuklinggau, setelah satu minggu baru bilang bahwa warga Kecamatan Sumber Harta, Kabupaten Musi Rawas dengan setiap hari komunikasi lewat mesengger setelah itu saya ingin mengajak temu korban,” papar terdakwa.

“Lalu saya mengajak korban ketemu dan menjemput korban di jalan, kemudian bertemu di Desa Madang. Saya duluan datang dengan menunggu korban. Saat itu korban berjalan kaki ke TKP, ketemu di jalan kebun karet setelah itu masuk dalam kebun karet,” jelas terdakwa.

Keduanya, kata terdakwa, janjian melakukan hubungan pacaran tapi tidak seintim hubungan pasangan suami istri.

“Sebelum bertemu kita chatan dengan meminta hubungan istri,” ungkap terdakwa.

“Tapi saat dicek oleh hakim, dalam chat massangger terdakwa dan korban tidak ada ajakan hubungan intim tersebut,” tegas Ferdinand.

Dijelaskan hakim, saat bertemu korban terdakwa mengajak hubungan intim, karena diancam sehingga terdakwa mencabuli korban. Sampai-sampai terdakwa telah menyediakan alas kain, lalu terdakwa kembali mencabuli korban.

“Terdakwa sudah beristri dengan memiliki tiga anak dalam dua kali pernikahan. Namun, terdakwa kembali melakukan aksi pencabulan. Rata-rata korbannya anak bawah umur. Bahkan selama kenal dengan korban, terdakwa sering kirim foto dengan video porno,” ungkap Ketua Majelis Hakim Ferdinand.

“Saya melakukan pencabulan ini karena kurang puas sama istri saya, dan ini menjadi hobi karena selalu ketagihan,” tambahnya.

Terdakwa juga mengakui, sengaja memvideokan korban saat dicabuli agar nantinya bisa memaksa korban ketemuan lagi untuk melakukan hubungan terlarang.

Selain Undang-undang (UU) Perlindungan Anak, terdakwa juga kena UU ITE, karena sebelumnya sudah menyebarkan video korban melalui aplikasi FB. Hakim meminta terdakwa taubat.

JPU Ayu Soraya juga menanyakan kepada terdakwa, kenapa terdakwa menyatakan perbuatan yang dilakukannya atas dasar suka sama suka.

“Sedangkan dalam saksi dan bukti (chat massanger) bahwa korban tidak mau bertemu dengan tersangka. Namun terdakwa memaksa dan akan mengancam korban,” ungkap JPU.

Atas keterangan terdakwa, Hakim Perdinand menutup sidang dan akan menggelar sidang agenda tuntutan, Rabu (28/4).(*)

Sumber: Linggau Pos

Rekomendasi Berita