oleh

Tak Perlu Gengsi, Yang Penting Halal

Ibu-ibu Tangguh Turut Berjuang Mencari Nafkah

Setiap wanita, punya cara tersendiri dalam memaknai perjuangan Kartini. Sebagaimana Selpi dan Nanik. Ibu-ibu berparas cantik ini tak malu menjadi juru parkir. Seperti apa pesan mereka untuk perempuan masa kini?

Laporan Suwito, Pasar Pemiri

KEMARIN, saya sengaja menemui Selpi di lokasi mangkalnya di Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Tepatnya di depan sebuah warung bakso.

Ia dengan cekatan mengatur kendaraan yang keluar masuk warung bakso itu. Kepada saya, Selpi dengan terbuka menceritakan, mulai jadi juru parkir sejak 2017 lalu.

Warga asli Lubuklinggau itu tinggal di Jalan Kandis, Kelurahan Ulak Surung, Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Selpi memulai tugasnya pukul 09.00-13.00 WIB. Saat bertugas, Selpi mengenakan baju juru parkir, peluit, kartu parkir, dan karcis.

“Saya mau melakukan ini, demi memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus membantu suami untuk mencari nafkah. Dalam sehari, penghasilan bersih yang diperoleh sebesar Rp 25–35 ribu,” ungkap Selpi.

Ibu yang kini berusia 40 tahun itu mengatakan, tidak ada istilah gengsi dalam hidupnya, selama ‘jalan’ yang diambilnya halal.

“Ini (jadi juru parkir,red) saya pikir pekerjaan paling mudah,” jelasnya.

Ia menyatakan, kalau demi keluarga buat apa harus malu, karena pekerjaan ini halal. Daripada ia harus mencari pekerjaan yang haram, Selpi tak mau itu.

Ia pun berharap, di momentum Hari Kartini ini, perempuan tetap tegar, dan jangan pernah berputus asa.

“Saya yakin setiap perempuan punya kisah masing-masing. Namun hidup tetap harus dijalani, dan harus semangat. Selagi halal, dan kita bisa melakukannya apapun itu jangan malu membantu suami mencari nafkah. Saya yakin itu juga bagian dari ibadah,” ungkap Selpi penuh keyakinan.

Ibu dua anak itu membenarkan, hanya segelintir wanita mau menggeluti tugas sebagai juru parkir. Namun bagi Selpi, itu bukan masalah.

Selain Selpi, Tri Nanik pun melakukan hal sama. Perempuan yang kini berusia 42 tahun itu juru parkir di depan Rumah Makan Tiga Saudara, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Jawa Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

“Saya ditinggalkan suami setahun lalu. Saya hidup bersama empat anak saya. Saya mau memberikan makanan dari rezeki yang halal untuk anak-anak saya. Jadi sekalipun harus berpanas-panas bahkan kehujanan, jadi juru parkir menurut saya tidak masalah. Sejak setahun lalu juga saya menekuninya,” jelas Tri Nanik.

Tri Nanik menerangkan, dulu suaminya yang berprofesi sebagai juru parkir, tapi setelah suaminya pergi ia pun menggantikan suaminya sebagai juru parkir.

“Saya sadar ini profesi yang tidak cocok untuk perempuan, tapi tuntutan ekonomi memang tidak dapat ditoleransi lagi. Sebenarnya penghasilannya sebagai juru parkir tidaklah seberapa, seharinya berkisar Rp 30-45 ribu,” ucap Tri.

Namun Tri selalu bersyukur, berapapun hasil yang ia diperoleh, karena ia menganggap jika Tuhan berkehendak pasti akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

“Rezeki kita tidak bisa menentukan, yang penting kita berusaha dan berdoa. Apapun pekerjaannya, yang penting halal,” tutur Tri.

Tri adalah seorang wanita tangguh, yang sanggup menjadi ibu merangkap ayah bagi keempat anaknya, dan yang satu sudah menikah. Ia berangkat dari rumah di Kelurahan Lubuk Kupang, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, dari pukul 09.00 WIB, dengan naik Angkutan Kota (Angkot).

“Bersamaan dengan momen Kartini, saya berharap keempat anak saya bernasib yang lebih baik dari saya, jangan jadi tukang parkir seperti ibunya ini,” harapnya.

Nanik juga berpesan bagi para ibu Indonesia saat ini. Bahwa menjadi ibu bukanlah peran yang mudah. Terlebih jika harus mencari nafkah.

“Namun yakinlah, setiap perjuangan itu pasti ada hikmahnya. Saya pun begitu. Yakin, kalau kita ikhlas Tuhan pasti mendengar setiap doa. Sekalipun sulit, perempuan masa kini harus tegar dan mandiri,” imbuhnya. (*)

Rekomendasi Berita