oleh

Tak Mampu Berobat

Tinggal di Kaki Bukit Sulap

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Kemiskinan yang terjadi di keluarga Saiful Anwar (51) dan Resmaya (48), membuat mereka tak berani memberikan pengobatan untuk putra keduanya, Agus (25). Sejak jatuh ketika menyemprot kebun akasia di Batam, kondisi Agus tak kunjung membaik.

“Karena kami tidak punya rumah di Lubuk Tanjung, makanya Agus saya bawa ke kebun. Namanya kami orang miskin, tidak berani berobat. Untuk makan juga seadanya,” jelas warga RT 06, Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuklinggau Barat II ini, Kamis (30/11).

Saat dibincangi Linggau Pos, ketika merawat Agus di Ruang Al-Ikhlas, RS Siti Aisyah, Resmaya berkali-kali menyatakan dirinya benar-benar tidak punya biaya. Untuk makan pun susah. Sebab penghasilan utamanya hanya dari sang suami, yang bekerja serabutan di kebun.

“Hasilnya dak seberapo. Jadi nak berobat takut!” kata Resmaya.
Di ruang TB Paru itu, Agus terbaring. Tubuhnya kurus. Tulang-tulang di tubuhnya nampak jelas. Kedua adik perempuannya tampak menguatkan. Kondisi Agus benar-benar lemah. Bibirnya penuh sariawan. Tubuhnya sama sekali tak bisa berdiri. Ia baru mendapatkan perawatan Rabu (29/11) sore.

Ada selang infus terpasang di tangan kanannya. Pernafasannya yang sesak juga dibantu dengan oksigen. Saat kami datang, Resmaya menunjukkan luka yang jadi cikal bakal Agus sakit, juga luka parah di bagian pinggul kirinya.

“Kami sudah empat bulan tinggal di talang (kebun) di kaki Bukit Sulap. Kalau mau ke sana, jalan kaki nyeberang Sungai Kelingi dari Kelurahan Ulak Lebar. 120 Menit berjalan ke talang,” jelas Resmaya.

Wajahnya yang sayu terus memandangi Agus, yang terkadang kesulitan bernafas.

“Di Talang itu memang dingin. Jadi dia ini sesak nafas. Makanya ditolong keluarga untuk berobat,” tuturnya.

Mengenai awal mula Agus sakit, Resmaya tak bisa menceritakan dengan detail. Yang dia ingat hanya empat bulan lalu Agus bekerja di salah satu perusahaan PT Akasia. Agus kala itu ingin mandiri, dan berusaha bekerja di Pulau Batam.

“Dia cerita kalau jatuh di lubang. Waktu itu baru dua bulan dia kerja. Tiba-tiba waktu menyemprot pohon, lalu jatuh. Bekas jatuh itu ada di lututnya ini. Sejak saat itu dia tidak bisa berjalan. Lutut yang terluka itu bengkak, lukanya lalu pecah, dan sampai sekarang tidak sembuh,” jelas Resmaya.

Sejak saat itu juga, Agus jadi makin sulit makan. Porsi makannya sangat sedikit. Ia pun tidak bisa memaksa, karena lauk yang diberikan untuk Agus juga kadang memang tidak begitu enak.
“Namanya miskin dek. Makan seadanya,” tutur Resmaya, yang tubuhnya juga nampak kurus.

Agus merupakan putra keduanya, dari enam bersaudara.

Bersamaan dengan Linggau Pos membesuk, Direktur RS Siti Aisyah dr Mast Idris menerangkan, Agus dirawat sebagai pasien Jamsoskes. Sehingga seluruh pembiayaannya ditanggung pemerintah.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk melayani dan mengupayakan pengobatan untuk Agus. Kami sangat menyayangkan, Agus lambat ditangani. Untuk identifikasi awalnya belum ada diagnosa pasti. Namun dicurigai Agus ini menderita Tuberkulosis (TB) Paru dan TB Tulang,” jelasnya.

Saat ini, Agus kerap batuk, nafas sesak, dan tidak bisa berdiri. Hanya saja, Resmaya memastikan anaknya itu tidak pernah batuk berdarah.

Dr Eddy Sp. PD, yang menangani Agus belum bisa menyimpulkan diagnosa pasien.

“Untuk sementara Agus ini kelihatannya kronis nutrisi. Tapi belum bisa ditimbang juga. Paling besok (hari ini,red) baru akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Intinya kami pulihkan dulu agar dia dapat nutrisi yang cukup,” jelas dr Eddy, Sp.PD.(05)

Berita Terkait : http://www.linggaupos.co.id/lurah-tidak-tahu-warganya-sakit-parah/

Komentar

Rekomendasi Berita