oleh

Tak Bisa Beli Solar, Sopir Truk Demo SPBU

LINGGAU POS ONLINE – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kelurahan Lubuk Kupang, Kecamatan Lubukinggau Selatan I membatasi pembelian solar bersubsidi. Hal ini membuat puluhan sopir dump truck marah dan melakukan aksi demo Jumat (13/9) sekitar pukul 09.30 WIB.

Dari pantauan Linggau Pos di lokasi, puluhan mobil dump truk berjejer di samping jalan antre untuk mengisi BBM jenis solar. Panjangnya sampai 1 kilo meter (KM).
Salah seorang sopir dump truck Aang (32) mengungkapkan, dirinya kesal sejak pukul 05.00 WIB antre hingga sekarang tetapi tak diizinkan manajemen SPBU mengisi BBM. Menurutnya, manajemen SPBU menjelaskan bahwa BBM solar telah habis sehingga tidak dapat mengisi dump truck lain.

“Saya tak habis pikir, kenapa mobil ngunjal (mobil penyetok solar untuk dijual kembali) boleh di isi, tetapi mobil dump truck pribadi tidak tidak diizinkan. Padahal kami sudah antre dari subuh tetapi tidak dilayani. Selain itu kami sama-sama beli bukan mengutang ataupun mencuri. Adapun kami mengisi tidak akan tiap hari, sekali mengisi full tanki cukup hingga dua atau tiga hari. Berbeda dengan mobil yang pengepok (penjual solar) mereka bisa tiap hari mengisi,” keluh Aang.

Bahkan, kata Aang, pihak SPBU tidak memberikan alasan kenapa dump truck pribadi tidak boleh isi solar.
“Ini diskriminasi, saya tidak tahu alasannya kenapa mobil dump truk pribadi tidak boleh mengisi solar. Kami paham para pengepok itu untuk dijual kembali karena berusaha, kita juga sama menggunakan mobil truk ini untuk bekerja dan mencari uang,” jelasnya.

Para sopir yang lama tidak dilayani menerobos masuk ke dalam ruangan staff untuk meminta penjelasan.

Setelah mendapat penjelasan dari staff, sopir itu mengumumkan pada rekan-rekannya bahwa yang berhak mendapat solar subsidi hanya untuk mobil saja sedangkan dump truck yang memiliki enam ban atau lebih tidak boleh.

“Itu sudah ada aturan dari Pertamina,” teriak sopir dump truck ini.
Mendengar kabar itu, puluhan sopir dump truck mengamuk dan memaksa masuk ke dalam antrean mobil truk lainnya. Setelah masuk ke dalam antrian mobil, para sopir tersebut turun dan berbicara kepada petugas SPBU untuk membaca ulang peraturan yang ditempel di dekat pengisian.

Para sopir meminta karyawan SPBU untuk membaca kembali peraturan yang tertempel itu. Para sopir bersikukuh, pada poin pertama mobil yang tidak dapat diisi solar bersubsidi merupakan mobil yang memiliki enam ban lebih. Mereka beralasan dump truck pribadi mereka hanya memiliki enam ban, maka harusnya diizinkan beli solar subsidi.
Akhirnya Staff SPBU itu melayani para sopir dump truck.

“Iya, untuk sekarang kita akan mengizinkan mengisi solar, namun nanti setelah ini saya akan berkoordinasi dengan manager SPBU apakah besok boleh mengisi atau tidak,” jelas staff SPBU.
Sopir dump truck lain Johan menambahkan jika beli SPBU lain, harga solar cukup mahal. Sementara kata Johan, pendapatannya sehari kurang dari Rp 100.000.

“Kalau saya mengisi di kios-kios, untuk makan saya dan keluarga saya gimana, karena harga di kios penjual solar cukup mahal, kami tidak dapat uang lebih dari hasil buruh harian. Dari hasil pendapatan Rp 200 ribu, saya hanya bisa mendapatkan Rp 50 ribu per hari untuk makan sekeluarga,” terangnya.

“Nasib kami sopir truk sudah susah ditambah pengisian solar dibatasi, kami harus bagaimana, masa untuk mengisi solar juga tidak boleh, padahal kami sama-sama beli bukan minta,” keluhnya.
Sementara Manager SPBU Lubuk Kupang Komar menyatakan, pembatasan yang dilakukannya merujuk pada Surat Edaran BPH Migas No.3865 E/KA BPH/2019 tentang Pengendalian Kuota JBT Tahun 2019.

29 Juli 2019 Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengeluarkan surat edaran tentang Pengendalian Kuota Jenis BBM tertentu (JBT) yaitu solar. Surat edaran yang diperuntukkan bagi PT Pertamina ini berlaku mulai 1 Agustus 2019.

Untuk itu, sesuai hasil sidang komite BPH Migas, secara tegas diinstruksikan ada poin-poin yang harus dilaksanakan terkait pengaturan pembelian JBT jenis minyak solar tersebut.
Pertama, dilarang menggunakan JBT Solar bagi kendaraan bermotor untuk mengangkut hasil perkebunan, kehutanan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam.
Kedua, maksimal pembelian JBT Solar untuk angkutan barang roda 4 sebanyak 30 liter/kendaraan/hari, roda enam atau lebih sebanyak 60 liter/kendaraan/hari.
Ketiga, dilarang menggunakan JBT Solar untuk kendaraan bermotor dengan tanda nomor kendaraan berwarna merah.
Keempat, dilarang menggunakan JBT solar untuk mobil tangki BBM, CPO, dump truck, truck trailer, truk gandeng dan mobil molen.

Terakhir, SPBU dilarang melayani pembelian JBT Solar untuk konsumen pengguna usaha mikro, usaha perikanan, usaha pertanian, transportasi air yang menggunakan motor tempel dan pelayanan umum tanpa menggunakan surat rekomendasi dari instansi berwenang.

Laporan Gery Cipta Sebangun/Sulis

Rekomendasi Berita