oleh

Sutini Berharap Dapat Bantuan Bedah Rumah

LUBUKLINGGAU – Setiap hari Sutini (39) bekerja mengumpulkan barang bekas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Mesat Seni, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Rabu (6/2).

Sudah 10 tahun lebih dia menggeluti pekerjaan itu. Dari ketelatenannya mengumpulkan sampah, Sutini mampu mendapat uang Rp40 ribu per hari. Biasanya Sutini mengumpulkan botol plastik, kertas, kardus, dan barang-barang yang menurutnya ia bisa laku dijual.

“Untuk keseharian saja jualnya kertas putih, kertas campuran, dan kertas kardus. Sedangkan untuk gelas atau botol plastik saya kumpulkan terlebih dahulu berkisar 2-3 bulan. Baru dijual,” kata warga RT 03 Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I ini, Rabu (6/1).

Untuk harga jual kertas putih dan kardus 1 Kilogram (Kg) Rp 1.000, sedangkan kertas campuran (yang tidak dipilah-pilah) berkisar Rp400 sampai Rp700 per kg.

Sutini menceritakan, 19 tahun lalu ia menikah. Sekarang ia sudah dikaruniai tiga orang anak dan dua cucu. Anak pertama telah menikah dan sudah memiliki dua orang anak, sedangkan anak ke dua masih SMA, yang bungsu SD kelas VI.

Sebelumnya Sutini pernah sempat menumpang tinggal di daerah TPA selama 2 tahun, sebelum ia mendapatkan tempat tinggal pribadinya di RT 03 Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara 1. Rumah yang ia singgahi sangat sederhana, ia menceritakan ciri rumahnya seperti pondok yang ada di kebun. Dengan model rumah panggung, menggunakan tiang kayu berkulit.

“Saya pernah menerima bantuan seperti bedah rumah, namun ujung-ujungnya malah yang dibedah itu rumah orang lain. Jadi sering tidak tepat sasaran. Memang kalau sekilas rumah saya berada di lokasi yang di depannya rumah elit, rumah saya tuh di belakangnya jadi tidak terjamah oleh mereka,” jelas Sutini.

Ia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan penduduk yang lebih membutuhkan. Menurutnya masih banyak orang yang membutuhkan bantuan, dan baiknya bantuan itu tepat sasaran kepada yang dituju.

Suami Sutini ternyata juga pekerja pemungut sampah keliling di Kecamatan Lubuklinggau Utara I. Menurut Sutini, ketika suaminya bekerja tidak pernah meminta uang pemungutan sampah, warga sekitar memberi seikhlasnya.

Sekarang suami Sutini sedang tergeletak sakit, dan Sutini yang bekerja ekstra untuk menutupi biaya sehari-hari. (cw4/lik)

Rekomendasi Berita