oleh

Suparno Ingatkan Wartawan Tidak Manja

Pelatihan Penulisan Feature dan Lipsus

Tidak banyak insan yang mampu bertahan jadi wartawan. Namun rasa cinta pada tugas dan keinginan besar untuk membuat tulisan yang baik, cukup jadi motivasi seseorang yang ingin menekuni profesi ini.

Laporan Sulis, Palembang

Tipikal wartawan itu ada tiga. Pertama, lincah di lapangan namun lamban di depan komputer. Kedua, pemalu di lapangan namun saat di depan komputer mudah mengetik berita. Ketiga lincah di lapangan, cekatan juga dalam membuat berita.

“Kita berharap peserta pelatihan ini bisa masuk ke dalam golongan yang ke tiga ini,” tutur Ketua Yayasan Sumatera Ekspres, H Subki Sarnawi di hadapan 24 peserta Pelatihan Feature dan Lipsus di Meeting Room Lantai 2 Graha Pena Sumeks, Kamis (9/11).

Untuk menjadi insan sebagaimana yang diharapkan H Subki Sarnawi, peserta pelatihan diajak menimba ilmu dengan CEO Jawa Pos Group H Suparno Wonokromo, Jumat (10/11).

Tepat di Hari Pahlawan, dengan suara penuh semangat H Suparno menularkan ilmunya tentang feature.

“Khasnya produk Jawa Pos itu dari In Depth News dan Boks (Feature). Maka saya berharap koran Divisi II sekalipun konsisten, setiap hari menerbitkan boks di halaman pertama maupun halaman dalam,” tutur bapak yang dikenal suka berpenampilan sederhana itu.

Membuat feature, jelasnya, lebih menarik jika mengungkap sisi lain dari kejadian kriminal.

Seperti yang pernah dilakoninya. H Suparno dengan begitu apik menuangkan proses pemutilasian Ny Diah oleh suami sendiri di tahun 80-an. Karya itu ternyata menurut H Suparno cukup berkesan dalam sejarah perjalanannya sebagai jurnalis.

“Menulis feature itu harus detail. Mulai dari kejadian awal sampai si pelaku tertangkap. Misalkan kasus pembunuhan dr Letty oleh suaminya ini. Wah… itu kalau kita bisa menggambarkan bagaimana ketegangan di dalam klinik sebelum kejadian, ketika pelaku masuk, proses penembakan sampai pada penangkapan luar biasa itu. Sederhananya begini. Feature itu bahan untuk nulisnya hampir sama dengan indepth news, tapi cara kita menulisnya itu loh yang harus lebih mendeskripsikan. Pembaca nanti seakan ikut dalam kejadian tersebut,” tutur Suparno yang baru saja menerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Kebudayaan dari Walikota Palembang H Jarnojoyo, kemarin.

Suparno menjelaskan, memang dalam satu media dibutuhkan regenerasi wartawan yang memiliki taste dalam menulis feature.

Dengan begitu, ‘rasa’ tulisan feature akan nampak bedanya dengan straight news maupun indepth news.

Selain saran itu, Suparno sempat mengecek 17 koran Divisi II yang ada di mejanya. Sesekali ia memberikan masukan terhadap masing-masing boks koran.

Sembari berdiskusi santai dengan para pemimpin redaksi dan redaktur pelaksana, H Suparno kembali mengingatkan agar setiap wartawan memiliki keinginan kuat untuk membesarkan nama korannya.

“Caranya, ya kualitas berita harus bagus. Kalau ada tugas, harusnya malu kalau sampai gagal,”pintanya.

Ia juga mengingatkan agar wartawan tidak manja.

“Sekalipun teknologi mempermudah tugas kita. Jangan hanya mengandalkan telepon. Kita harus ulet. Karena kalau via telepon mau buat feature bagaimana bisa kita mendeskripsikan mimik wajah narasumber, mengungkap sisi unik atau menggambarkan suasana dramatis sekitar kejadian. Jadi ingat pesan saya, harus semangat dan ulet,” tuturnya lagi.

Menjelang Salat Jumat, peserta diminta rehat. Berbekal proyeksi dari H Suparno para jurnalis ini mulai hunting data ke lapangan. Hari ini (11/11), karya jurnalistik para peserta pelatihan akan diedit langsung oleh Pak CEO. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita