oleh

Sulit Dilintasi Saat Penghujan

Jalan di Rawas Ilir Banyak Masih Tanah Liat

Miris jika melihat kondisi akses jalan di wilayah Kecamatan Rawas Ilir Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Sebab di wilayah tersebut masih banyak jalan yang tanah kuning. Terlebih saat penghujan, makin susah untuk dilalui.

Laporan Aspin Dodi, Rawas Ilir

CONTOHNYA akses jalan menuju Desa Batu Kucing, Pauh, Belani, Ketapat Bening dan Air Bening.

Situasi itu membuat masyarakat yang mengendarai kendaraan baik roda dua maupun roda empat harus ekstra hati-hati ketika melintas. Sebab jika tidak, bisa saja terjatuh atau terbalik disebabkan jalan yang licin dan juga berlumpur.

Sering mobil yang menempuh jalan tersebut terlumpur, sehingga terjadi kemacetan dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua, sedangkan roda empat tidak bisa.

Sebagaimana diketahui, ada beberapa desa di Kecamatan Rawas Ilir yang jalannya masih alami seperti desa Tanjung Rajo, Belani, Batu Kucing, Pauh dan Ketapat Bening, Air Bening

Nah hal ini, tentunya harus menjadi pekerjaan rumah (PR) besar Pemerintah Kabupaten Muratara, mengingat Pendapat Asli Daerah (PAD) terbesar dari Kecamatan Rawas Ilir.

Namun sayangnya sejak belum menjadi Daerah Otonomi Baru, atau mekar dari Kabupaten induk Musi Rawas, hingga sekarang belum ada perubahan.

Nardin (53) warga desa Batu Kucing mengatakan ketika memasuki musim hujan, kesusahan untuk keluar dari dusun, karena kondisi jalan yang masih alami tentunya susah untuk dilalui baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

“Kalau hujan semalaman pastinya tidak bisa keluar dusun dek kami di sini, karena jalan berlumpur dan licin. Jika ingin keluar pun harus menunggu jalan itu kering,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Dirinya menyayangkan karena kondisi ini sudah lama sekali, akan tetapi nampaknya tidak ada perhatian dari pihak pemerintah untuk melakukan pembangunan jalan.

“Dengan kondisi jalan seperti ini, tentunya akan menghambat perekonomian dan menambah beban hidup masyarakat lantaran kondisi medan yang sulit berdampak pada tingginya harga sembako,” tutur Nardin.

Menurutnya wajar jika desa Batu Kucing masuk kategori desa tertinggal, mengingat akses jalan untuk keluar dusun hanya satu. Dan jika saat musim banjir tentunya masyarakat susah untuk keluar dari dusun dan kalaupun ingin memaksa menggunakan ketek ataupun sekoci dengan biaya yang cukup tinggi.

“wajab be jika desa Batu Kucing ini masuk kategori desa tertinggal, karena akses jalannya hanya satu dan jika musim hujan seperti ini pastinya akan susah untuk keluar dari desa,” bebernya.

Terpisah, Asan (35) warga Ketapat Bening berharap kepada pemerintah agar dapat membangun jalan, supaya pada saat musim hujan seperti ini tidak kesulitan untuk keluar masuk desa.

“Kita sangat berharap sekali kepada pemerintah agar dapat membangun jalan, jujur kami lah saro nian dibuat kondisi jalan ini, nak keluar masuk desa be susah, “harapnya.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita