oleh

Sulit Dapatkan Air, Petani Beralih Tanam Jagung

MUSI RAWAS – Musim kemarau membuat petani di Desa E Wonokerto, Kecamatan Tugumulyo  yang sawahnya sulit mendapat air dari irigasi beralih menanam jagung.
Hal tersebut diungkapkan, Paimin (43) petani asal Desa E Wonokerto kepada koran ini, Minggu (28/7).

Selain mengandalkan air irigasi, sawahnya bisa dialiri air menggunakan mesin diesel pompa air, dengan mengambil air sungai dekat sawahnya. Namun karena sawah tersebut merupakan sawah milik orang lain, yang hasil panen dibagi dua, maka dia urung untuk menggunakan diesel.

“Rugi jika menggunakan diesel, karena biayanya mahal. Sekali menggunakan diesel, harus mengeluarkan uang Rp40 ribu,” kata Pimin.

Paimin enggan menanam kacang, karena ancaman hama tikus. Walaupun sebenarnya kacang lebih membutuhkan sedikit air jika dibandingkan jagung.

Tempat sama, Samadi  juga mengatakan hal yang sama bahwa di tempatnya penanaman jagung sudah disepakati oleh kelompok tani. Dan sudah diarahkan untuk menanam jagung.

Untuk itu, bibit jagungnya disubsidi dari pemerintah, namun untuk pupuk petani membeli sendiri. Hal ini dilakukan karena jatah air irigasi yang sedikit sehingga tidak mencukupi jika digunakan untuk menanam padi.

“Kalau sawahnya digunakan sebagai percontohan, bibit dan pupuk di subsidi, tapi karena sawah saya tidak dipakai untuk percontohan, jadi saya hanya dapat subsidi bibitnya,” kata Samadi.

Ditambahkan, para petani beralih menanam jagung karena jagung tidak banyak membutuhkan air seperti padi. Dan merawatnya pun tidak susah, serta menjualnya pun mudah. (dlt)

Rekomendasi Berita