oleh

Suamiku Pengkhianat Cinta

Sebut saja namaku Umi (28). Aku tinggal di Kecamatan Lubuklinggau Barat. Tahun ini pernikahan saya dan suami memasuki usia 5 tahun, namun hingga kini kami belum dikaruniai seorang anak. Meskipun kami belum memiliki anak namun kami tidak pernah mempermasalahkan soal ini. Tapi entah mengapa suamiku jadi pengkhianat cinta.

Saya dan suami tinggal berbeda daerah. Dengan jarak tempuh 4 jam. Suami harus tinggal dengan ibu mertua sambil mengurus usahanya. Sementara aku memilih tinggal di rumah kontrakan.

Kami bertemu setiap Sabtu dan Minggu, namun pekerjaan suami saya sebagai wiraswasta membuatnya bisa menemui saya di rumah kontrakan kapan saja.

Saya memilih mempertahankan pekerjaan karena tidak ingin terlalu membebani suami dengan kebutuhan keluarga saya. Perekonomian orang tua saya tidak cukup baik, sehingga saya harus membantunya sebisa mungkin.

Sebetulnya pernikahan ini cukup berat bagi saya, meskipun Aku tahu suami sangat mencintai Aku namun latar belakang keluarga kami yang berbeda membuat pihak keluarganya kurang mendukung pernikahan kami.

Suami Aku berasal dari keluarga berada. Sementara keluarga Aku hanyalah keluarga orang biasa dan tidak memiliki apa-apa.

Aku selalu berusaha mengikuti segala hal yang diterapkan dalam keluarga suami saya, dari cara berpakaian, bertingkah laku dan segala kebiasaan di dalam keluarganya.

Apa yang Aku lakukan nyatanya tidak cukup membuat keluarga suami menyukai saya. Mereka ingin agar Aku berhenti bekerja, mereka ingin Aku fokus dalam mengurus rumah tangga. Hal ini membuat Aku keberatan mengingat beban yang harus Aku tanggung.

Setelah itu, suami Aku begitu sibuk dengan urusannya, sudah beberapa akhir pekan tidak kami lewati bersama. Bagi Aku hal itu biasa, mengingat kesibukannya sebagai wiraswasta tak ada jadwal pasti untuk pekerjaannya.

Saya pun menghubungi suami saya, tapi tidak di angkat-angkat, lalu Aku menghubungi kakak ipar Aku menanyakan kabar suamiku, namun ia langsung menjawab suami sedang pergi.

Aku jadi kwartir, akhirnya aku membuka media sosial dan melihat dipostingan kakak ipar ternyata suami Aku sedang melakukan ijab kabul bersama wanita lain.

Kejadian ini membuat saja terkejut ternyata suamiku menikah lagi. Semua menjadi awal kehancuran kehidupan rumah tangga saya.

Sesaat Aku hanya bisa diam terpaku, tak sadar air mata sudah mengalir. Aku pikir rumah tangga kami baik-baik saja meskipun banyak rintangan yang kami hadapi, nyatanya salah. Aku pikir ia sibuk bekerja, ternyata dia sedang melangsungkan pernikahan yang justru Aku ketahui dari media sosial.

Tanpa berpikir panjang Aku pergi menemui suami Aku dan keluarganya, marah dan kata-kata kasar pun Aku lontarkan. Tak ada yang berani berucap, semua terdiam. Entah setan apa yang merasuki.

Kemarahan dan kemarahan yang Aku rasakan setiap saat, sempat membuat saya ingin mengakhiri hidup, namun Alhamdulillah saya tersadar dan terselamatkan. Suami berkali-kali meminta maaf dan berjanji akan tetap menyayangi saya, bahkan katanya dia tidak pernah mencintai istri barunya.

Saya memberikan waktu untuk suami saya memilih, namun rasa takutnya menentang keluarganya lebih besar dibanding rasa cintanya terhadap saya. Hingga saat ini yang dilakukannya hanyalah meminta maaf dan meminta saya kembali tanpa peduli dengan sakit yang saya rasakan.

Setiap saat saya memohon petunjuk-Nya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mempertahankan rumah tangga. Bukan karena kesabaran aku telah habis, namun biarlah suami bahagia dengan wanitanya. Ia tidak perlu memilih, karena jika ia mencintai aku, tentu tidak akan ada yang kedua.(19)

Komentar

Rekomendasi Berita