oleh

Suami Sakit Parah, Epi Jadi Pemecah Batu

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Lebih dari 50 warga Kelurahan Ulak Lebar, Kecamatan Lubuklinggau Barat II memilih jadi pemecah batu. Salah seorang yang melakoninya, Saripi (62).

Diusia senja, ia masih harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Sejak 10 tahun terakhir, ia makin sering berada di sekitar Sungai Kelingi, Kota Lubuklinggau.

Ia mengangkut batu yang dipecah rekannya dari tepian Sungai Kelingi, naik ke atas di dekat rumahnya. Lalu ia akan menjadi pemecah batu hingga sore hari.

“Jika dulu, kerja menjadi pemecah batu ini hanyalah sampingan, namun semenjak harga karet yang terus dengan harga standar, mau tak mau, pemecah batu inilah yang menjadi penghasilan kami,” ungkap ibu yang kerap dipanggil Epi tersebut.

Epi mengakui, memecah batu bukan pekerjaan mudah. Namun, ia tak punya pilihan lain. Semua, demi memenuhi kebutuhan hidup suami dan keempat putranya.

Epi kini jadi tulang punggung keluarga.

“Suami saya Bustomi (68) menderita Hernia. Akibat kerja jadi pengumpul batu, mengangkutnya dari sungai sampai ke depan rumah, kini dia nggak bisa mengangkat beban berat lagi. Sudah banyak kebun yang dijual untuk mengobati suami saya. Bahkan sudah dua kali dioperasi,” tutur Epi.

Dalam istilah medis, hernia merupakan penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan laki-laki.

Melihat sang suami kesakitan, tak banyak yang bisa dihasilkan Epi. Ia berusaha untuk tegar menghadapinya. Setiap pagi, sebelum pukul 06.00 WIB ia sudah mulai mengumpulkan batu-batu di tepian Sungai Kelingi menggunakan Ban, lalu membelinya seharga Rp20 ribu, kemudian harus mengeluarkan biaya lagi Rp10 ribu untuk upah ngangkut dari bibir sungai ke tempat lokasi Epi mengumpulkan batu, sehingga pendapatan yang diterima Epi per satu kubik koral, hanya Rp30 ribu per hari.

Batu-batu yang dipecahnya diambil oleh pelanggan, dua atau tiga hari sekali.

Dengan penghasilan yang minim itu, Epi masih tetap bersyukur. Baginya, yang terpenting bisa membeli beras.

“Saya memang tidak sendiri. Di Ulak Lebar ini banyak yang jadi pencari batu. Nyaris tidak ada yang bisa punya rumah bagus. Karena kami semua masuk golongan tidak mampu,” akunya. (cw1)

Rekomendasi Berita